Recent comments

:::Gunaryadi's Pages on Asia-Europe Relations and Global Issues... :::

August 2, 2005

Sumatera Barat dan ‘Industri Otak’?

Filed under: Reflections - Administrator @ 1:05 pm

Gunaryadi, M.A.

Belum lama berselang Silfia Hanani menulis dalam Padang Ekspres dengan tajuk “Ketika Sumbar Tak Lagi Jadi ‘Industri Otak.’” Dari tulisan tersebut dan beberapa artikel sejenis sebelumnya, penulis menilai perlu iluminasi terhadap gagasan-gagasan yang berkaitan dengan ‘industri otak’ di Sumatera Barat untuk mencegah terjadinya bias persepsi terhadap isu tersebut. Ada dua pertanyaan yang perlu kita jawab: Apakah Sumatera Barat memiliki ‘industri otak’? Kalau ‘ya,’ dalam pemahaman yang bagaimana?

Diskursus untuk menjadikan Sumatera Barat sebagai Ranah Minangkabau yang mengembangkan ‘industri otak’ sudah berusia lebih dari dua dekade ketika Emil Salim mengagaskan pemikiran tersebut tahun 1980-an. Salah satu stuwende kracht di balik gagasan tadi adalah kerinduan dan kegelisahan tokoh masyarakat Minang ketika mencerminkan kondisi dan representasi intelektual dan ketokohan urang awak kontemporer dengan prestasi generasi pionir yang ikut melahirkan republik ini (Yurnaldi, Kompas, 14/11/2001). Artinya, gagasan tersebut masih berada pada domain konseptual yang lahir karena kita cenderung asyik—meminjam istilah Taufik Abdullah—‘bercermin pada kolam yang jernih’ sehingga wajah sendiri kelihatan dengan jelas dan kita sering tergelincir untuk memuji-muji kegagahan diri sendiri. Sejarawan sekaliber Taufik Abdullah kemudian mengingatkan bahwa kita tidak ‘membangkit batang yang terendam’ tetapi ‘meneruka masa depan’ (Khairul Jasmi, Republika, 17/02/1997).

Untuk pertanyaan pertama, apakah Sumatera Barat merupakan daerah ‘industri otak,’ jawabannya bisa ‘ya’ bisa ‘belum.’ Benar bahwa Sumatera Barat pernah memiliki ‘industri otak’ karena fakta historis memperlihatkan bahwa pada masa kolonial Ranah Minang pernah menjadi sentra pendidikan agama dan umum bagi generasi muda dari daerah-daerah lain baik di Sumatera maupun dari luar Sumatera. Tidak salah pula bahwa Sumatera Barat dikatakan telah memiliki ‘industri otak’ karena dalam beberapa dekade terakhir, banyak siswa dan mahasiswa dari kawasan hinterland seperti Bengkulu, Jambi dan Riau yang belajar di lembaga pendidikan di Sumatera Barat khususnya Padang.

Tetapi dari perspektif lain, menurut hemat penulis Sumatera Barat—khususnya pasca PRRI—belum lagi memiliki ‘industri otak,’ atau dapat dikatakan baru berada pada fase awal dari mata rantai dalam mesin produksi yang diberi nama ‘industri otak.’ Realitas ini sering dicampur-aduk dengan kenyataan yang sulit dibantah bahwa Ranah Minang memang penyedia bahan baku SDM yang potensial. Penulis menggunakan istilah Ranah Minang yang meskipun merujuk pada teritorial geografis Sumatera Barat, tetapi lebih kuat ikatan sosiologis dan kulturalnya dengan urang awak yang sudah lahir dan besar di rantau yang bisa kita namakan overseas Minang.

Berkaitan dengan pertanyaan kedua, kita tidak bisa membuat generalisasi representasi rasio etnis Minang pada level elite nasional dan bahkan internasional sebagai indikator prestasi ‘industri otak’ yang identik dengan hasil pendidikan di Ranah Minang. Benar kalau sebagian tokoh kita merupakan produk dunia pendidikan Sumatera Barat bahkan terdapat pula figur Minang dengan reputasi nasional dan internasional meskipun mereka tidak pernah merantau secara fisik. Tetapi, sebagian besar dari tokoh kita yang sudah menjadi milik bangsa ini dan dunia global hanya sempat mengenyam pendidikan dasar, menengah dan sarjana di Sumatera Barat, bahkan para overseas Minang tidak pernah sama sekali. Setelah itu, mereka merantau baik karena dorongan tradisi, mencari pengalaman, mengumpul modal, melanjutkan pendidikan maupun karena beribu alasan yang lain. Kemudian ada yang kembali mengabdi, menjadi elit serta besar di Ranah Minang dan tidak sedikit yang basintungkin dan besar di luar batas-batas teritorial Ranah Minang. Jika peran dan laverage ‘industri otak’ daerah kita ini hanya merupakan salah satu fase saja—marjinal atau tidak ada sama sekali—dari penempaan karakter figur-figur Minang baik di dalam maupun di luar teritorial Sumatera Barat, lantas faktor-faktor apa saja yang memungkinkan seorang individu Minang bisa tumbuh sebagai tokoh? Dalam konteks ini, yang lebih berperan adalah kultur kita yang menanamkan nilai-nilai kompetitif dan kreatif, world view dan bakat otodidak ala cogito ergo sum-nya Rene Descartes di Alam Takambang, momentum sejarah dan nasib. Peran kultural tadi biasanya akan terpelihara melalui komunikasi dan interaksi yang kontinyu dalam diri setiap insan Minang antara dua kutub yaitu Ranah Minang teritorial yaitu Sumatera Barat dan Ranah Minang imajiner yaitu perantauan di mana si fulan itu berada.

Penulis sangat setuju dengan gagasan merekonstruksi ‘industri otak’ di daerah kita. Namun kita perlu berpikir lebih kategoris dalam memahami sebuah gagasan. Disamping itu, melahirkan gagasan memang lebih mudah daripada merealisasikannya. Tetapi preposisi ini bukan sebuah pandangan yang pesimistik karena terdapat banyak bukti bahwa kita mampu melakukannya. Hanya saja, saat ini dunia pendidikan di daerah kita—sebagai sokoguru dari ‘industri otak’ ini—sedang berada dalam masa surut. Isu-isu dan problematika peningkatan kualitas pendidikan di daerah dan meningkatkan kembali daya tarik Ranah ini bagi peserta didik dari luar Sumatera Barat merupakan bab lain dan perlu dibahas secara terpisah. (Penulis adalah overseas Minang, saat ini bermukim di Den Haag)

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://gunaryadi.blogsome.com/2005/08/02/47/trackback/

  1. Salam kenal dari urang awak di Batam

    Comment by EDI KOTO — September 2, 2008 @ 2:15 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King

  • Home

  • Links:
    • Sekolah Indonesia Nederland (SIN) Wassenaar
    • Jasmijn and Hannah's Weblog
    • Dessy's Reflections
    • Indonesian Embassy, The Hague
    • Weblog Bapak Saidan
  • Categories:
    • International Community (Translation)
    • Media Coverage
    • Paper
    • Perspectives
    • Reflections
  • Search:

  • Archives:
    • June 2008
    • May 2008
    • January 2008
    • November 2007
    • July 2007
    • May 2007
    • March 2007
    • February 2007
    • January 2007
    • December 2006
    • October 2006
    • September 2006
    • August 2006
    • July 2006
    • June 2006
    • May 2006
    • April 2006
    • March 2006
    • February 2006
    • January 2006
    • December 2005
    • November 2005
    • October 2005
    • September 2005
    • August 2005
    • July 2005
    • June 2005
  • Most Recent Posts
    • Serba-s...
    • Tafelte...
    • Menghit...
    • Menghit...
    • Tahun...
    • Dag...
    • Dag...
    • Belia,...
    • Strateg...
    • Sarkozy...
  • Most Popular Posts
    • Angkatan Bersenjata...: 43
    • Korvet Canggih, Kekuatan...: 42
    • Jatuhnya Pemerintahan:...: 33
    • Pemilu di Eropa:...: 32
    • Tahun Baru 1429: Masa Depan...: 28
    • Sepatu Kayu Khas Nederland: 27
    • Prajurit yang...: 24
    • ASEAN Charter dan...: 23
    • Proliferasi Nuklir Iran dan...: 19
    • Pemilu Jerman, 22...: 16
    • Kerusuhan Prancis dan Eksesnya: 15
    • Belanda: Bersahabat dan...: 14
    • Menghitung Burung di...: 11
    • Implikasi Musibah di...: 10
    • Prognosis Pemilu Legislatif...: 9
    • Promosi...: 8
    • Dag Twee: Op het naar...: 6
    Komentar Terbaru..
  • August 2005
    M T W T F S S
    « Jul   Sep »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Other:
    • login
    • register
  • Meta:
    • RSS .92
    • RDF 1.0
    • RSS 2.0
    • Atom
    • Comments RSS 2.0
    • Valid XHTML