Surat Perantau Minang dari Belanda
* Bersepeda, Belajar dari Belanda
By adminpadek
Harian Padang Ekspres, Minggu, 23-Oktober-2005, 04:25:08 58 clicks
Dalam tulisan bertajuk ‘Budaya Hemat: Belajar Bersepeda dan Mobnas Di-pool-kan?’ dalam Padang Ekspres, 16 Oktober 2005, H. Sutan Zaili Asril (Cucu Magek Dirih) mendukung terobosan penghematan oleh Gubernur Gamawan Fauzi untuk menyimpan kendaraan dinas jika sedang tidak dipakai untuk keperluan dinas.
Yang lebih menarik lagi adalah wacana Cucu Magek Dirih bahwa kebijakan gubernur ini perlu dilanjutkan dengan budaya menggunakan sepeda di tengah meroketnya harga BBM.
Berbicara tentang sepeda tampaknya belum ada negeri yang mampu menandingi Belanda. Diperkirakan, jumlah sepeda di Belanda mencapai 13 juta buah. Sedangkan penduduknya saat ini 16 juta orang. Jadi, secara statistik, hampir setiap orang di Belanda memiliki 1 sepeda.
Semua lapisan masyarakat menggunakan alat transportasi ini: dari kakek, nenek, ibu rumah tangga, anak sekolah, mahasiswa hingga anggota parlemen dan menteri bersepeda. Sepeda digunakan untuk hampir semua keperluan transportasi, mulai dari belanja, ke sekolah, mengunjungi teman, rekreasi, hingga ke kantor, dll. Karena bervariasinya jenis keperluan sepeda ini menyebabkan beragam pula jenis sepedanya, ada sepeda-nenek (omafiets), sepeda-kakek (opafiets), sepeda-perempuan (damesfiets), sepeda-pria (herenfiets), dan sepeda-anak (kinderfiets).
Orang Belanda sejak dahulu dikenal sebagai masyarakat yang biasa berpikir praktis. Karakter ini adalah salah satu kunci yang membuat Belanda mampu menguasai Hindia-Timur (Nederlands Oost-Indië) ratusan tahun dan ekonominya ini termasuk yang terkuat di dunia. Seorang anggota parlemen atau menteri bukannya tidak mampu membeli mobil. Biasanya mereka punya mobil sendiri atau kendaraan dinas tetapi hanya dipakai sesuai aturan yang berlaku. Kalau hanya dari stasiun ke kantor atau ke rumah atau dari rumah ke kantor atau sebaliknya bisa menggunakan sepeda kenapa harus pakai mobil? Kalau bisa menaiki kendaraan umum ke pusat kota, seperti bus atau trem, mengapa harus pakai mobil yang perlu bahan bakar, ongkos parkir, dan kurang praktis? Ketika di negara lain saat ini kuatir dengan masalah kegemukan, di Belanda obesitas belum menjadi ancaman kesehatan yang signifikan karena masyarakatnya sudah terbiasa dengan latihan fisik—seperti halnya masyarakat Skandinavia yang suka hiking—yaitu mendayung sepeda.
Dalam eksposisi hortatoris ini, penulis sepenuhnya setuju dengan H. Sutan Zaili Asril bahwa perlu dipikirkan untuk mengembangkan budaya bersepeda, khususnya di Padang. Ada banyak alasan untuk itu. Pertama, sama dengan Belanda, Padang adalah kota yang memiliki topografi pantai atau sedikit pendakian-penurunan yang terjal serta tidak terlalu luas sehingga cocok dijelajahi dengan sepeda. Kedua, kenaikan harga BBM sebagian bisa diatasi dengan mendayung sepeda karena tidak perlu energi hidrokarbon. Ketiga, bersepeda itu sehat baik bagi pengendaranya maupun bagi lingkungan karena tidak menghasilkan racun CO2 dan tidak bising. Kota yang bersih dan tenang akan menarik minat wisatawan.
Keempat, bersepeda itu praktis karena tidak perlu tempat untuk parkir atau rute tertentu. Kelima, bersepeda juga mencerminkan budaya Urang Awak, yaitu sifat hemat dan berpikir praktis.
Kalau hanya bersifat ajakan budaya bersepeda sulit berkembang. Anjuran tersebut harus didukung oleh 2 faktor. Pertama, fasilitas. Kedua, perubahan paradigma masyarakat. Untuk aspek pertama, budaya ini harus didukung oleh sarana yang memadai. Di Belanda, sisi kiri dan kanan hampir semua ruas jalan selalu terdapat jalur-sepeda (fietspad). Di persimpangan atau penyeberangan juga disediakan lampu lalu-lintas khusus untuk pengendara sepeda. Diwajibkan pula—khususnya jika jalan di malam hari—semua sepeda memiliki lampu depan dan belakang. Sarana dan aturan tersebut adalah untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengendara.
Untuk faktor kedua, perlu menumbuhkan paradigma positif bersepada. Penyediaan sarana dan prasarana saja belum mencukupi. Mengubah paradigma ini mesti dimulai dari diri sendiri. Dan dalam sistem sosiologis masyarakat kita, perubahan akan bisa dipercepat kalau menggunakan pola top-down. Saya yakin kalau Gubernur Gamawan Fauzi konsisten dengan tekadnya untuk mengandangkan mobil dinas kalau tidak sedang dipakai untuk diperlukan dinas, maka kebijakan itu akan diikuti dengan senang hati oleh bawahan beliau. Rakyat tidak saja akan memberi nilai plus kepada pemimpin demikian, tetapi juga akan mengikuti contoh tersebut. Tauladan ini tentunya harus berkesinambungan sehingga terlihat jelas tingkat konsistensinya. Apa yang telah dirintis oleh H. Sutan Zaili Asril terhadap diri, keluarga dan karyawannya adalah bukti bahwa perubahan paradigma harus dimulai dari atas.
Mengayuh sepeda tidak semestinya menurunkan derajat sosial seseorang. Sama halnya dengan menggunakan kendaraan dinas hanya untuk keperluan yang sesuai dengan peruntukannya adalah jauh lebih terhormat dibandingkan menghabiskan uang untuk sesuatu yang bisa dihemat atau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.
Sama dengan nilai yang dianut oleh masyarakat Belanda bahwa secara kultur masyarakat Minang memiliki semangat egaliterisme. Bersama-sama memasyarakatkan penggunaan sepeda adalah salah satu wujud dari sifat egaliter ini.
Gunaryadi (Overseas Minang, pendiri dan direktur Indonesian Centre for Actual Information and Studies on Europe, kini bermukim di Den Haag)
saya setuju dengan pendapat kakanda sutan tadi, untuk mengatasi rumah kaca saat ini, belanda pantas lah jadi tauladan kita dan belanda bisa dijadikan sebagai percontohan dalam mengatasi perubahan iklim yang sangat menakutkan tersebut. Bersepeda yang saat ini dinilai gengsi, aplagi bagi remaja yang saat ini sok gaul semua, agak mustahil mereka akan menggunaka alat transportasi tradisional tersebut, untuk itu kalau bisa sang gubernur memberi contoh dulu, dengan mensosialisasikan bersepeda di ranah minang ini, mungkin dengan acara aksi bersepeda sekililing kota , atau kalau bisa gubernur membuat hari bersepeda , jadi seluruh masyarakat (termasuk gubernur) pada hari itu menggunakan sepeda semua, jadi alat transportasi dikandangakan dirumah masing-masing, kan hal tersebut bisa mengatasi global warming yang gejala-gejalanya sudah mulai kelihatan saat ini, dan diperkirakan seandainya belum juga ada solusi mungkin pada abad ini juga akan terjadi sesuatu yang sangat menakutkan akibat global warming tersebut.
Rumah gubernur kan dekat dengan kantornya, jadi kalau sang gubernur menuju kantor dari rumah cukup dengan bersepeda saja begitu juga dengan sang ajudannya,
terimakasih
Comment by andri el faruqi (suara kampus) — December 11, 2007 @ 1:17 pm
USAHO TAMBAHAN SANAK
SANAK YANG ADO DIRANTAU JO KAMPUANG, KO GALEH NAN SABANA ,MURAH KARAJONYO, MURAH MODALNYA, TAK ADO RESIKONYO, BAYAK KEUNTUNGANNYO, DEK SANAK , JO KAWAN-KAWAN LAIN, GALEH KO DI PAKAI DEK URANG SATIOK HARI, LAH MARUPOKAN KEBUTUHAN SATIOK HARI DEK SANAK JO URANG LAIN, INDAK MANGGADUAH USAHO UTAMO, SAMBIE MANGOPI DILAPAU, GALEH KO BISA LAKU DI JUA ,UNTUAK LABIAH JALEHNYO SANAK Liek Blog Ambo di
http://padangcardcenter.bogspot.com/ KALAU SANAK BUTUH : ATRIBUT,PILKADA, KEMEJA, JAKET, TENDA, PERLENGKAPAN WISUDA, PROMOSI PERUSAHAAN, PAKAIAN, SEPATU, PDH, PDL , Klik nanti
Logo YANKONVEKSI Setelah buka blog diateh BAPAK IBUK GURU BUTUH
RPP SEMUA MATA PELAJARAN, Klik nanti MGMP PENJAS ORKES KOTA PADANG. Tarimo kasi atas meluangkan waktu melihat blog ku.
Comment by YANSURDIN — February 16, 2009 @ 8:06 am