Turki, Black Sea pipeline, dan Eropa
Gunaryadi, M.A.
Tanggal 17/11/05 Reuters merilis foto sumringah PM Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Rusia Vladimir Putin dan PM Italia Silvio Berlusconi di Samsun dalam acara peresmian pipa-gas yang menghubungkan Rusia dan Turki yang melintas dasar Laut Hitam. Tidak ada yang luar biasa dari pertemuan seremonial tersebut, meskipun Putin hadir dengan 80 pengawal pribadinya. Yang signifikan adalah fungsi strategis pipa ini terhadap geopolitik serta pesan simboliknya bagi aspirasi Turki untuk menjadi anggota Uni-Eropa.
Pipa-gas Blue Stream
Pipa-gas milik Blue Stream Pipeline Company (BSPC) tersebut sangat unik karena melewati dasar Laut Hitam, yang menghubungkan Izobilnoye dan Dzhugba di Rusia dengan Samsun di Turki. Dari sana pipa tadi berlanjut ke Ankara. BSPC yang merupakan konsorsium Gazprom (Rusia) dan Eni SpA (Italia) dan terdaftar di Amsterdam itu, mengelola pipa tersebut bersama mitranya dari Turki: Botas.
Fasilitas berupa sepasang pipa ini terbuat dari baja berdiameter (OD) 24 inchi dengan ketebalan dinding 31,8 mm. Panjang totalnya 1.213 km dengan titik terdalam 2,15 km di dasar laut. Infrastruktur yang telah beroperasi sejak 2003 dengan kapasitas maksimum 16 milyar meter kubik per tahun ini menelan biaya sekitar € 2,72 milyar.
Implikasi terhadap Turki
Hadirnya pipa-gas ini dan peresmiannya beberapa hari yang lalu membawa beberapa implikasi terhadap Turki. Pertama, berfungsinya pipa gas tadi lebih menjamin suplai gas Turki dari Rusia. Faktor jaminan ini sangat krusial mengingat sekitar 60% kebutuhan gas dan 20% keperluan minyak Turki tergantung pasokan dari Rusia.
Kedua, Turki adalah salah-satu negara yang suplai gas dan minyaknya tergantung dari impor. Oleh karena itu, ada kekuatiran bahwa kehadiran pipa tersebut akan membuat negeri ini semakin tergantung pada pasokan gas dan minyak dari Rusia sekaligus mengurangi kontribusi gas dari Turkemenistan. Tetapi, kebijakan Turki membangun dan mengoperasikan pipa ini malah melahirkan interdependensi di mana Rusia juga tergantung pada akses yang diberikan Turki sehingga produk gas dan minyak Rusia bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Ketiga, pipa ini menjadikan Turki sebagai jembatan energi antara Timur dan Barat. Melalui Turki, gas dan minyak Rusia bisa menjangkau pasar di Eropa Selatan, Israel dan Balkan. Dalam acara peresmian tersebut, Presiden Putin menawarkan pembangunan pipa kedua berdasarkan rute yang sama sehingga bisa meningkatkan kapasitas tahunan pasokan gas melalui Laut Hitam mencapai 30 milyar meter kubik per tahun. Meskipun tawaran Rusia tadi masih dipertimbangkan, tetapi Ankara memprediksi proyek itu nantinya akan memungkinkan realisasi rencana Turki membangun pipa dari Samsun ke Ceyhan, kawasan pantai di tenggara Turki.
Pembangunan pipa Samsun-Ceyhan itu, membawa implikasi keempat yaitu mengurangi sesaknya Selat Basporus. Saat ini, lebih dari 5.000 tanker per tahun melewati selat tersebut mengangkut gas dan minyak dari Laut Kaspia melalui Laut Hitam ke Laut Tengah.
Kelima, pipa-gas ini tentu akan bermanfaat secara ekonomi bagi Turki. Nilai pasti dari keuntungan yang akan diperoleh Turki dari transit fee belum diketahui secara pasti. Tetapi sebagai komparasi, melalui pipa minyak Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC) yang juga melibatkan Turki, negeri ini mendapat € 1,27 milyar per tahun. Belum lagi, kalau dihitung jika Turki bisa melakukan re-exporting gas dan minyak Rusia tersebut ke negara lain.
Keenam, bagaimana mengeluarkan minyak dari Rusia dan Laut Kaspia—yang menurut British Petroleum mengandung sekitar 16,5 milyar barel atau setara dengan cadangan minyak Kanada, Mexico atau Qatar—melalui rute yang dekat dan aman berimplikasi geopolitis. Negara-negara Barat khususnya AS sedang berusaha untuk mencari sumber pasokan gas dan minyak alternatif karena kekuatiran atas pasokan dari produsen di Timur-Tengah yang dilanda ketidakstabilan politik dan keamanan, serta harga minyak dunia yang meroket.
Pipa-gas Rusia-Turki ini beroperasi lebih awal daripada pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC) yang melibatkan Azerbaijan, Kazakhstan, Georgia, dan Turki. Pipa BTC tersebut menghubungkan lapangan minyak di kawasan Laut Kaspia ke Laut Tengah melalui Baku di Azerbaijan, Tbilisi di Georgia dan Ceyhan. Untuk melindungi pipa BTC itu, AS mengeluarkan € 54,35 juta untuk melatih sekitar 3 batalyon tentara Georgia dengan teknik anti-teror dan sabotase karena keamanan kawasan Kaukasus sangat rawan. Dibandingkan BTC, level keamanan pipa yang melalui dasar Laut Hitam lebih tinggi sehingga biaya lebih murah dan harga lebih bersaing.
Ketujuh, Cehyan akan menjadi terminal minyak regional. PM Erdogan memperkirakan, jika pembangunan proyek kedua itu selesai, sekitar tahun 2010 minyak dari Rusia dan Kazakhstan akan mencapai Laut Tengah. Pembangunan Ceyhan yang akan menelan € 8,49 milyar itu mencakup kompleks industri yang baru, infrastruktur penyulingan minyak, terminal gas alam cair, dan fasilitas petrokimia. Jika saat ini Ceyhan telah menjadi muara dari pipa BTC dan Kirkuk dari Irak, nantinya Ceyhan juga akan menjadi terminal dari pipa dari Ankara dan sebauh rute lain dari Laut Kaspia. Analogi yang bisa dibuat—walaupun tidak sepenuhnya identik—adalah bahwa dari sektor energi Turki bisa serupa dengan strategisnya Singapura, yang minus SDA tetapi menikmati posisinya sebagai negara transit, re-exporter komoditas dan fasilitas keuangan di Asia.
Pesan kepada Brussel
Setelah berjuang 40 tahun, 3 Oktober 2005 Turki diterima secara resmi untuk negosiasi keanggotaan EU. Perundingan yang bisa berlangsung 10-15 tahun itu tidak otomatis berujung diterimanya Turki ke dalam EU, meskipun PM Erdogan menegaskan bahwa Turki tidak akan menerima jika pada akhirnya Turki tidak menjadi anggota-penuh EU. Erdogan mengingatkan, “Either the EU will decide to become a world force and a world player…or it will limit itself to a Christian club.”
Peran baru Turki dalam ranah distribusi energi ini jelas mengirimkan sinyal yang kuat kepada Brussel bahwa posisi Ankara relatif strategis. Meskipun cadangan minyak Rusia dipekirakan hanya bertahan sekitar 15 tahun lagi, tetapi cadangan minyak Kazakhstan dan Azerbaijan yang masih bertahan 35 dan 78 tahun mendatang tetap bisa menggunakan Ceyhan. Dalam konteks ini, jika keberhasilan pembangunan pipa gas dan minyak serta terminal Ceyhan tidak berhasil mengurangi kekuatiran sebagian anggota EU terhadap Turki, tetapi proyek tersebut bisa memperkuat nilai-tawar ekonomi Turki dalam negosiasi yang praktis dimulai Desember 2005 nanti.
Dengan berjalannya poyek pipa gas itu, Ankara sepertinya berhasil dalam ‘sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlewati,’ baik secara ekonomi dan geopolitik maupun keinginannya menjadi anggota EU.
Mas terima kasih tulisannya, bahan2nya banyak membantu.. Mas Gunaryadi pernah buat tulisan tentang dinamika kerjasama trans atlantik antara AS, UE sama NATO? Ini topik tugas akhir saya.. terima kasih
Comment by Tomy — July 30, 2008 @ 2:05 pm
salam bro…
thanks ya… da bagi infonya
Comment by irian — August 26, 2009 @ 9:17 pm