Belanda: Bersahabat dan Melawan Air
Oleh Gunaryadi
Kamis, Padang Ekspres, 29-Desember-2005, 04:40:59
Ada pepatah Belanda mengatakan: “Tuhan menciptakan seluruh muka bumi kecuali Belanda. Karena Belanda diciptakan oleh orang Belanda sendiri.” Pepatah itu—yang bagi kita terdengar angkuh—menggambarkan bagaimana orang Belanda mengeringkan danau-danau dan bagian dari laut dengan menciptakan polder dan tanggul sehingga menjadi daratan kering yang bisa dihuni.
Reklamasi itu dilakukan karena secara geografis negeri ini berada di delta-muara sungai-sungai besar di Eropa, yaitu Rijn, Maas, IJssel dan Schelt sehingga sebagian besar daratannya terbentuk dari sedimen yang dibawa arus sungai tadi. Kondisi tersebut juga membuat Belanda menjadi negeri yang rendah topografisnya dan landai (plat) yang sebagai besar terletak di bawah permukaan laut. Titik tertinggi hanya sebuah bukit di Vaalserberg dengan ketinggian 322 m di atas permukaan laut, dan yang terendah di Zuidplaspolder yang berada 7 m di bawah permukaan laut, kawasan di mana sekitar 60% dari 16 juta penduduk Belanda tinggal.
Pada Zaman Es sekitar 180.000-130.000 tahun lalu, Eropa dan Belanda masih dilapisi glasier dan permukaan air laut beberapa meter lebih rendah daripada yang sekarang. Sekitar 10.000 tahun lalu, suhu menjadi lebih panas, es mencair, dan permukaan laut naik.
Di kawasan pantai seperti di Holland dan Zeeland, permukaan tanah naik akibat hempasan ombak dan angin sehingga membentuk tanggul alam yang ketinggiannya mencapai 10 m. Kemudian, tanggul buatan manusia mulai muncul di abad ke-12 dan ke-17 M.
***
Bagi Belanda, air—baik air laut maupun aliran sungai—adalah sahabat sekaligus musuh bebuyutan. Sebagai sahabat, aliran air telah membantu membawa pasir sedimen dari hulu sungai jauh di pedalaman Eropa sehingga delta di muara sungai tersebut membentuk Niederland—istilah yang digunakan bangsa Jerman untuk Belanda—yang bermakna negeri yang terletak di dataran rendah.
Air juga telah membantu Belanda dari serangan dari luar. Dalam paruh-kedua abad ke-16 hingga paruh-pertama abad ke-17 M, pecah perang antara Belanda yang Protestan dan Spanyol yang Katholik. Konflik itu juga dikenal sebagai ‘Perang 80 Tahun’ (Tachtigjarige Oorlog). Di awal perang tersebut, tahun 1573 Belanda membuka pintu-pintu air sehingga terjadi banjir yang mematahkan pengepungan kota Alkmaar oleh pasukan Spanyol. Tahun 1574, taktik banjir-yang-disengaja ini juga mencegah pengepungan kota Gorinchem yang dua tahun sebelumnya menyatakan berpihak pada Prins van Oranje—pendiri Dinasti Oranje yang hingga kini masih menjadi keluarga kerajaan di Belanda. Dalam tahun yang sama, milisi Oranje membebaskan kota Leiden dari pendudukan Spanyol setelah merendam bagian yang rendah dari kota itu sehingga bisa dilalui kapal-kapal kecil (geuzen) berisi pasukan Belanda mendekati benteng pertahanan Spanyol. Tahun 1629 Pangeran Frederik Henderik memulai proyek yang menggunakan lahan yang sewaktu-waktu bisa digenang banjir kalau ada serangan musuh. Garis-pertahanan tersebut mulai dari Zuiderzee di selatan hingga ke Sungai Merwede di Gorinchem. Sistem ini berhasil membendung invasi pertama pasukan Prancis tahun 1672.
Sebagai sahabat, air juga memiliki makna ekonomis yang sangat signifikan bagi Belanda. Pelayaran-darat (inland-waters) pada umumnya bisa dilayari kapal-kapal ponton mengangkut berbagai komoditas. Sebagain suplai barang menuju pelabuhan kedua terbesar di dunia, Rotterdam juga tergantung dari pelayaran-darat ini. Dan tidak pula aneh kalau ada kapal berukuran ribuan ton melewati kanal yang terletak lebih tinggi daripada atap rumah-rumah penduduk kiri-kanan kanal.
***
Sebagai musuh, bangsa Belanda sudah ribuan tahun berjuang melawan air. Dalam kurun 1000 dan 1953, tidak kurang terjadi 111 banjir besar di bagian barat Belanda. Banjir tahun 1953 itu menelan lebih 1800 nyawa, ratusan ribu mengungsi, puluhan ribu sapi dan ternak tenggelam, dan ribuan rumah serta lahan rusak. Presiden Soekarno bahkan ikut mengirim satu kapal dari Indonesia untuk membantu korban banjir di Belanda tersebut.
Banjir yang terjadi awal 1953 tadi diakibatkan badai laut yang hebat dan robohnya tanggul di kawasan pantai khususnya di daerah Zeeland di selatan. Banjir itu pula yang menyebabkan lahirnya ‘Delta Project’, sebuah proyek raksasa yang pembangunannya memakan waktu beberapa dekade dan berakhir ketika konstruksi tanggul penahanan-gelombang laut Oosterscheldekering di Zeeland selesai dan diresmikan Ratu Beatrix tahun 1986.
Meskipun keberhasilan Delta Project terbukti bisa melindungi Belanda dari serangan air hingga sekarang, namun ancaman air tersebut belum serta-merta lenyap. Semakin naiknya permukaan air laut tetap menjadi ancaman serius bagi Belanda. Untungnya, berjuang melawan alam ini telah pula menjadikan Belanda sebagai salah-satu negara yang memiliki sistem pengelolaan-air terbaik di dunia. Ahli banjir Belanda beberapa bulan yang lalu khusus diundang membantu mengeringkan kota New Orleans di Louisiana (AS) dari genangan air akibat badai Katrina.(*)
Pendiri dan direktur Indocase (Indonesian Centre for Actual Information and Studies on Europe)