Recent comments

:::Gunaryadi's Pages on Asia-Europe Relations and Global Issues... :::

April 28, 2006

Sepatu Kayu Khas Nederland

Filed under: Reflections - Administrator @ 2:55 am

Gunaryadi

Ketika kita mendengar atau membaca tentang Belanda, biasanya dengan serta-merta kita menghubungkannya dengan simbol khas dari negeri tersebut seperti keju, kincir angin, atau tulip. Asosiasi semacam ini hampir sama dengan pemahaman bahwa Belanda itu identik dengan “negeri keju”, “negeri kincir angin”, atau “negeri tulip”. Bahkan ada julukan khas yang biasa digunakan orang Belanda menyebutkan negerinya yaitu kikkerland atau “negeri kodok” karena di mana-mana terdapat air. Selama ini simbol-simbol dominan tersebut ternyata telah mengaburkan asosiasi kita bahwa Belanda ternyata memiliki ikon yang lain. Oleh karena itu, feature ini memperkenalkan sebuah ikon khas Belanda yang selama ini mungkin belum akrab dalam asosiasi pemikiran kita yaitu sepatu kayu, clogs kata orang Inggris atau klompen dalam bahasa Belanda.

Secara historis, sepatu kayu itu sudah dikenal di Belanda sejak tahun 1270 M. Sepatu kayu tidak saja populer di Belanda tetapi dalam Abad Pertengahan juga banyak dipakai oleh para petani dan buruh di negara Eropa lainnya. Variasi dari sepatu kayu tadi adalah trippe atau terompa kayu dalam bahasa kita, yakni sandal kayu yang memiliki tali dari kulit. Di kawasan Vlaams (Belgia bagian utara yang berbatasan dengan selatan Belanda), istilah klompen itu merujuk pada sepatu kayu bagi wanita, sedangkan untuk pria, sepatu tersebut dinamai holleblokken.

Dari sisi kultural, sepatu kayu ini seakan melekat pada karakter asli Belanda baik secara filosofis maupun material. Secara filosofis, karakter bangsa Belanda identik dengan mentalitas “panggaleh” yang zakelijk, hemat, praktis, ulet dan ekonomis, serta kredo “tungku tigo sajarangan” versi Belanda yang dikembangkan oleh Adalbero van Laon tahun 1000 M, yaitu bidden yang bermakna ibadah, vechten atau berjuang, dan werken yang berarti berkarya (De Nederlandse geschiedenis in een notendop, 1998). Karena itu, klompen yang sederhana tapi punya banyak kelebihan, bahannya mudah diperoleh dan dibuat, sangat digemari masyarakat Belanda.

Sedangkan dari sudut material, sepatu kayu itu memberikan kehangatan pada kaki di musim dingin dan kesejukan pada musim panas karena kayu memiliki daya serap suhu yang baik, melindungi kaki saat melangkah di jalanan yang kotor di Abad Pertengahan, mencegah agar kaki tidak terbenam di tanah yang lunak dan berlumpur karena tipologi tanah semacam ini jamak di Belanda. Bagi petani, pandai-besi, atau yang memerah susu sapi, tentu klompen ini sangat bermanfaat melindungi kaki saat bekerja.

Manfaat lainnya dari sepatu kayu ini adalah sebagai wadah menyimpan barang-barang kecil, celengan penjaga jembatan atau pintu air untuk mengambil uang dari perahu atau kapal yang menggunakan fasilitas tersebut, sebagai vas bunga, kapal mainan, bahkan sebagai palu, dan kalau sudah usang bisa dijadikan sebagai kayu bakar untuk pemanas di musim dingin. Bahkan ada anekdot yang sedikit senofobis mengatakan bahwa klompen bisa digunakan sebagai pelampung kalau terjadi banjir.

Setiap wilayah biasanya memiliki sepatu kayu yang secara simbolik mencirikan daerah masing-masing. Bahkan di Belanda terdapat dua daerah yang diberi nama “De Klomp”, yaitu sebuah kampung di Ede (Provinsi Gelderland), dan sebuah tempat di Weesp (Provinsi Noord-Holland).

Dari sudut ekonomi, klompen bernilai signifikan karena mendukung industri pariwisata, sebuah sektor yang cukup penting bagi perekonomian Belanda. Tahun 2003, kontribusi pariwisata terhadap GNP lebih dari 2,5% dengan pemasukan sekitar € 8 milyar. Dalam periode yang sama, sekitar 9,2 juta wisatawan mengunjungi Belanda (‘Toerisme en recreatie in cijfers 2004’, Centraal Bureau voor de Statistiek, 12/11/04). Dari sektor pariwisata ini, sepatu kayu tersebut menjadi salah satu souvenir yang paling khas dari Belanda. Dalam ukuran kecil, biasa juga dibuat sebagai gantungan kunci, atau miniatur kapal layar, atau keramik Delft blue.

Di zaman dahulu, hampir di setiap kampung dan daerah memiliki pembuat sepatu kayu. Tetapi saat ini hanya tersisa sekitar 30 pembuat saja, yang menghasilkan sekitar 800 ribu pasang klompen per tahun. Di zaman sekarang, tidak banyak lagi yang mengenakan klompen di Belanda dalam kehidupan sehari-hari. Hanya sebagian petani, nelayan, atau orang yang bekerja membersihkan kebun atau halaman yang masih menggunakannya. Dengan kata lain, klompen yang dahulunya merupakan perangkat untuk keperluan sehari-hari menjadi lebih simbolik dan bernilai ekonomis.

Setidaknya ada dua pelajaran yang bisa kita ambil dari kultur klompen Belanda ini yaitu pentingnya memelihara tradisi yang khas, dan mengembangkannya sehingga memiliki nilai ekonomis.

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://gunaryadi.blogsome.com/2006/04/28/sepatu-kayu-khas-nederland/trackback/

  1. Kemarin pas brows marktplaats cari klompen (pengin banget punya satu yg gede & dari kayu). ternyata keluar juga klompen2 modern dr kulit dan bahan sepatu lainnya, bentuknya mirip klompen kayu. Jadi org Belanda masih pake klompen tapi bukan yg seperti jaman baheula…

    Comment by Dessy — April 28, 2006 @ 8:38 pm

  2. Kalau di Tangerang, Ada klompen yang mirip dengan di belanda. Hanya dia berfungsi sebagai hiburan dan keakrab-an. Yaitu Ketika kita lomba “balap terompah” di acara 17-an. Bisa dipakai bertiga berempat . Yang bergerak dengan kompak dan serasi dialah yang bisa mencapai tujuannya-tidak terjatuh di tengan perjalanan.

    Comment by GNT-TNG — June 18, 2006 @ 8:16 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King

  • Home

  • Links:
    • Sekolah Indonesia Nederland (SIN) Wassenaar
    • Jasmijn and Hannah's Weblog
    • Dessy's Reflections
    • Indonesian Embassy, The Hague
    • Weblog Bapak Saidan
  • Categories:
    • International Community (Translation)
    • Media Coverage
    • Paper
    • Perspectives
    • Reflections
  • Search:

  • Archives:
    • June 2008
    • May 2008
    • January 2008
    • November 2007
    • July 2007
    • May 2007
    • March 2007
    • February 2007
    • January 2007
    • December 2006
    • October 2006
    • September 2006
    • August 2006
    • July 2006
    • June 2006
    • May 2006
    • April 2006
    • March 2006
    • February 2006
    • January 2006
    • December 2005
    • November 2005
    • October 2005
    • September 2005
    • August 2005
    • July 2005
    • June 2005
  • Most Recent Posts
    • Serba-s...
    • Tafelte...
    • Menghit...
    • Menghit...
    • Tahun...
    • Dag...
    • Dag...
    • Belia,...
    • Strateg...
    • Sarkozy...
  • Most Popular Posts
    • Angkatan Bersenjata...: 43
    • Korvet Canggih, Kekuatan...: 42
    • Jatuhnya Pemerintahan:...: 33
    • Pemilu di Eropa:...: 32
    • Tahun Baru 1429: Masa Depan...: 28
    • Sepatu Kayu Khas Nederland: 27
    • Prajurit yang...: 24
    • ASEAN Charter dan...: 23
    • Proliferasi Nuklir Iran dan...: 19
    • Pemilu Jerman, 22...: 16
    • Kerusuhan Prancis dan Eksesnya: 15
    • Belanda: Bersahabat dan...: 14
    • Menghitung Burung di...: 11
    • Implikasi Musibah di...: 10
    • Prognosis Pemilu Legislatif...: 9
    • Promosi...: 8
    • Dag Twee: Op het naar...: 6
    Komentar Terbaru..
  • April 2006
    M T W T F S S
    « Mar   May »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Other:
    • login
    • register
  • Meta:
    • RSS .92
    • RDF 1.0
    • RSS 2.0
    • Atom
    • Comments RSS 2.0
    • Valid XHTML