Recent comments

:::Gunaryadi's Pages on Asia-Europe Relations and Global Issues... :::

September 26, 2006

Korvet Canggih, Kekuatan Laut Indonesia

Filed under: Reflections - Administrator @ 1:37 pm

Gunaryadi
(Kolom "Opini" Harian Padang Ekspres, 11 Oktober 2006)

Penulis sedikit merinding menyaksikan 2 dari 4 korvet SIGMA-class yang dipesan TNI-AL di dok-kering milik “Schelde Naval Shipbuildings” di Vlissingen. Betapa tidak, kapal yang dibangun di bawah koordinasi dan supervisi Satgas Yekda Korvet TNI-AL di Belanda tersebut, berdiri gagah dalam tahap “sentuhan-akhir” yang secara resmi diberi nama KRI Diponegoro (365) dan KRI Hasanuddin (366) oleh Menhan Juwono Sudarsono, 16 September 2006.

Kehadiran korvet ini membawa secercah harapan memperkuat armada TNI-AL. Meskipun sudah termasuk “too little, too late”, kehadiran 4 kapal patroli dengan daya-jelajah “green-water” serta daya-pukul memadai itu cukup menggembirakan.

Dengan panjang 90,71 meter dan lebar 13,02 meter, kapal yang didesain modern dan memiliki karakteristik “siluman” (stealth) itu mampu melaju dengan kecepatan maksimum 28 knot.

Untuk menghadapi ancaman permukaan, udara dan bawah-air, korvet tadi dilengkapi dengan alutsista standar di kelasnya. Diantaranya mencakup rudal permukaan-ke-udara Mistral, rudal anti-kapal Excocet MM40, meriam atomatis Melara kaliber 76 mm, senapan-mesin Vector12 kaliber 20 mm, torpedo 3A 244S Mode II/MU 90, decoy TERMA SKWS, serta berbagai instrumen pengindera-dini yang canggih, termasuk sebuah helipad di punggungnya.

Meskipun kapal ini memiliki kemampuan tempur, tetapi misi utamanya akan difokuskan untuk menjaga keutuhan wilayah, kekayaan maritim dan dasar laut, patroli perairan, menangkal penyelundupan, bajak laut, pencurian ikan, operasi penyelamatan, dan penegakan hukum di wilayah laut Indonesia.

Melihat dari dekat membuat kita yakin bahwa desain dan visi pembangunan kapal dengan harga-dasar sekitar €140 juta ini adalah untuk menjawab tantangan dan ancaman maritim hingga 25 tahun ke depan.

Memprihatinkan: Kekuatan Laut Kita
Kita tidak bisa membantah realita bahwa Indonesia adalah negara maritim yang terdiri dari hampir 20.000 pulau, 93.000 kilometer per segi laut-pedalaman, dan luas wilayah keseluruhannya menurut Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) mencapai 7,9 juta kilometer per segi. Klaim luas terakhir ini tidak terlepas dari prinsip wilayah Indonesia yang mencakup “tanah dan air”, serta doktrin kesatuan politik dan keamanan nusantara (archipelagic).

Sebagai negara terbesar di ASEAN, bagaimana postur kekuatan alutsista TNI-AL kontemporer diukur dari kekuatan kapal? Saat ini TNI-AL memiliki kurang dari 200 kapal dari berbagai jenis. Padahal kebutuhan minimal kita adalah 300 kapal; kebutuhan normalnya 1.000 kapal; dan kebutuhan idealnya 2.000 untuk memantau dan mengawal seluruh titik wilayah laut Indonesia. Dengan kekuatan yang ada saat ini, kekuatan laut kita sangat memprihatinkan. Dengan selesainya korvet keempat 2009 nanti masih belum begitu signifikan menambah kapabilitas kuantitatif TNI-AL karena sudah banyak pula kapal berusia-lanjut yang perlu diganti.

Geopolitik Regional
Dengan penduduk lebih dari 200 juta, kondisi geografis Indonesia yang membujur di persilangan 2 samudera: Hindia dan Pasifik, serta kekayaan laut dan dasar laut melimpah, negara ini memiliki nilai yang sangat strategis. Pertanyaannya sekarang adalah seberapa-jauh signifikansi geopolitis tadi didukung oleh postur kekuatan maritim kita.

Dibanding rasio wilayah laut yang harus dikawal, kekuatan laut Indonesia berada di bawah Thailand, Malaysia, Singapura, dan ketinggalan jauh dari Australia. Secara teknologi, armada laut negara-negara tetangga tadi juga lebih maju dan mutakhir. Disamping itu, dari sisi anggaran pertahanan, magnitude kemampuan kita masih kecil.

Padahal potensi ancaman maritim sangat besar. Dari sisi pencurian ikan saja, sebelum 2004 Indonesia kehilangan sekitar Rp 36,5 trilyun per tahun. Dengan kebijakan yang lebih tegas, akhirnya kerugian negara berhasil ditekan menjadi sekitar Rp 18,2 trilyun per tahun.

Sedangkan menurut “International Maritime Bureau” (IMB), dari 445 serangan bajak-laut terhadap kapal komersial tahun 2003, 121 terjadi di wilayah laut Indonesia. Dalam perompakan yang paling sering terjadi di Selat Malaka itu, 20 pelaut terbunuh, 350 disandera, dan 70 hilang.

Belum lagi ancaman navigasi, pencurian benda arkeologi laut, penyelundupan kayu gelondongan, BBM dan manusia, penyebaran senjata pemusnah-massal, kerusakan lingkungan laut, serta sangketa pemilikan pulau dengan beberapa negara tentangga.

Mengingat posisi geopolitis, potensi ancaman, dan kekuatan laut Indonesia saat ini, seyogyanya peningkatan armada laut dan maritim kita hingga mencapai kapabilitas “green-water navy”, mendapat prioritas mendesak. Konsekuensinya adalah penambahan alokasi anggaran, peningkatan performa personil dan kerjasama dengan elemen hankam lainnya. Dalam konteks peningkatan kapabilitas maritim tadi, pembangunan korvet yang sedang berlangsung tersebut adalah kebijakan yang sangat tepat dan strategis. ***

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://gunaryadi.blogsome.com/2006/09/26/korvet-canggih-kekuatan-laut-indonesia-dan-geopolitik-regional/trackback/

  1. Sangat setuju,kalau boleh jujur kita butuh sesuatu yang lebih menggigit lebih dari kapal sekelas korvet sigma.jika kita benar benar ingin membangun deterance yang kuat guna mendukung diplomasi.kita harus mampu mengembalikan kejayaan kita sebagai negara maritim yang kaya akan sumber daya alam.kita butuh banyak kapal selam,karena sampai sekrang kapal selam merupakan senjata yang sangat menakutkan di laut.kita bisa bandingkan dengan negara negara tetangga kita.karena ancaman yang sebenarnya tidak datang dari negeri yang jauh melainkan dari tetangga tetangga kita.indonesia adalah bangsa yang besar,mari kita tunjukan pada mereka

    Comment by Guntur — May 9, 2008 @ 2:05 am

  2. bagus tuh..kita memang mesti bisa bikin kapal canggih berteknologi modern saat ini baik korvet sigma atau pregat. klo saja terwujud sampai 300 minimal kita py kapal tempur sekelas diatas tadi, ditambah beberapa kapal selam katakanlah tiga lagi yg modern, ditambah lagi radar pendeteksi musuh dari luar yg katanya 2010 terpasang dan rampung semuanya pd 2012 trus kita py roket dengan jarak tempuh jauh yg bisa dipakai di kapal laut…niscaya tidak ada kejadian lagi KD malingsia termasuk seluruh TLDM nya macem2 melintasi teritorial wilayah NKRI.
    sebagai anak bangsa sy py impian.
    1. Ekonomi tumbuh minimal setaraf dengan angka inflasinya.
    2. BUMNIS mempunyai kekuatan baik secara modal dan
    teknologi.
    3. PT Pindad bisa membuat senjata serpu ringan sampai berat yg handal dengan amunisi yg bagus, trus py rudal balistik antar benua dan rudal anti udara dengan jarak tempuh minimal 50.000 m.
    4. PT DI bisa membuat jet tempur sendiri seperti rencananya membuat LS-X sampai pada varian yg sangat canggih bisa menyaingi f22 raptor milik USAF, dengan pesawat2 pendukung lainnya sekelas interceptor, air combat, pembom siluman dan pesawat pendukung tni AD sekalipun.
    5. PT PAL yg bisa sukses mambuat kapal tempur kelas korvet sigma tercanggih di dunia, pregate terlincah dan ganas serta kapal selam etrhebat yg anti sonar musuh dengan persenjataannya yg komplit serta py banyak kapal anti kapal laut yg hebat.
    6. pertahankan dan tingkatkan prestasi prajurit tni saat ini baik AD dengan KOPASUS nya, AL marinir dan kopaska pasukan kataknya, AU dengan Den Bravo 81 dan PASKASnya. tunjukan lag klo kita memang bangsa besar dan unggul dari bangsa lainnya.
    maju terus indonesia dimana ada kesulitan disitipula ada jalan ….jangan menyerah!!!!!!!!!

    Comment by LS-X the indonesian airsuperiorty — March 13, 2009 @ 7:06 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King

  • Home

  • Links:
    • Sekolah Indonesia Nederland (SIN) Wassenaar
    • Jasmijn and Hannah's Weblog
    • Dessy's Reflections
    • Indonesian Embassy, The Hague
    • Weblog Bapak Saidan
  • Categories:
    • International Community (Translation)
    • Media Coverage
    • Paper
    • Perspectives
    • Reflections
  • Search:

  • Archives:
    • June 2008
    • May 2008
    • January 2008
    • November 2007
    • July 2007
    • May 2007
    • March 2007
    • February 2007
    • January 2007
    • December 2006
    • October 2006
    • September 2006
    • August 2006
    • July 2006
    • June 2006
    • May 2006
    • April 2006
    • March 2006
    • February 2006
    • January 2006
    • December 2005
    • November 2005
    • October 2005
    • September 2005
    • August 2005
    • July 2005
    • June 2005
  • Most Recent Posts
    • Serba-s...
    • Tafelte...
    • Menghit...
    • Menghit...
    • Tahun...
    • Dag...
    • Dag...
    • Belia,...
    • Strateg...
    • Sarkozy...
  • Most Popular Posts
    • Angkatan Bersenjata...: 58
    • Jatuhnya Pemerintahan:...: 43
    • Menyigi Isu Korupsi di...: 41
    • Korvet Canggih, Kekuatan...: 35
    • Pemilu di Eropa:...: 32
    • Tahun Baru 1429: Masa Depan...: 30
    • Sepatu Kayu Khas Nederland: 26
    • ASEAN Charter dan...: 20
    • Belanda: Bersahabat dan...: 19
    • Proliferasi Nuklir Iran dan...: 18
    • Kerusuhan Prancis dan Eksesnya: 14
    • The Development of...: 12
    • Belia, Internet, dan...: 10
    • Menghitung Burung di...: 8
    Komentar Terbaru..
  • September 2006
    M T W T F S S
    « Aug   Oct »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • Other:
    • login
    • register
  • Meta:
    • RSS .92
    • RDF 1.0
    • RSS 2.0
    • Atom
    • Comments RSS 2.0
    • Valid XHTML