Belia, Internet, dan Tanggung Jawab Bersama
Den Haag, 7 November 2007
Gunaryadi
Tadi malam kami memenuhi undangan sekolah tempat putri sulung kami belajar; sebuah Sekolah Dasar yang tidak terlalu jauh dari rumah. Pertemuan serupa itu biasanya diprogram secara berkala dengan tema-tema (themabijeenkomst) tertentu yang dianggap mendesak. Pertemuan tersebut dihadiri oleh guru-guru, komite orang tua, dan orang tua siswa. Pertemuan 2 jam tadi malam mengusung tema: “Communicatie, internet, mobiele telefoon, wat doen onze kinderen ermee?” (terjemah bebasnya: Komunikasi, internet, ponsel, apa yang dilakukan anak-anak kita?)
Meskipun putri kami masih duduk di Groep 1 (setara TK Kecil di Indonesia) yang belum begitu banyak bersentuhan dengan internet, kami hadir untuk bersilaturrahim, bersosialisasi, mengapresiasi pihak sekolah yang sangat memperhatikan perkembangan peserta didik dan melibatkan (betrokkenheid) orang tua serta stakeholders lainnya, dan tentu saja untuk mendengarkan dan berbagi saran, pendapat dan gagasan demi kebaikan bersama.
Tujuan pertemuan tersebut, pertama, untuk menyepakati protokol penggunaan internet bagi pihak orang tua; kedua, bagaimana sekolah menyikapi perkembangan dunia-maya tersebut berkaitan dengan aktivitas, keamanan dan masa depan siswa.
Hanya sekitar 20% dari keseluruhan orang tua siswa yang hadir tadi malam, yang kemudian dibagi menjadi 10 kelompok diskusi yang anggotanya dicampur antara guru dan orang tua.
Pada putaran pertama, masing-masing orang tua diminta moderator menuliskan manfaat (voodelen) dan mudharat (nadelen) teknologi internet. Kemudian seluruh anggota kelompok mendikusikan dengan anggota yang lain dalam kelompoknya kedua isu tadi sehingga bisa saling melengkapi dan berargumentasi. Setelah itu, masing-masing kelompok diminta menyampaikan 1 (satu) saja dari aspek manfaat dan mudharat. Dalam catatan kami, kata-kata kunci hasil diskusi seluruh kelompok menyimpulkan sebagai berikut.
Manfaat (voordelen) internet:
1. Telepon menggunakan perangkat Skype (Skypen)
2. Sumber informasi yang luar biasa (Enorme informatie bronnen)
3. Hiburan (Ontspanning)
4. Kecepatan berkomunikasi (Snelheid)
5. Hubungan dengan luar negeri (Contact met buitenlanden)
6. Pemesanan online (Online bestellen)
7. Pembayaran online (Online betalen)
8. Berbagi gagasan (Ideën uitwiselen)
9. Hubungan yang cepat (Snel contact wil maken)
10. Bisa digunakan untuk berbagai program belajar, dll. (Gebruik voor programma’s, enz.)
Mudharat (nadelen) internet:
1. Kecanduan (Verslaving)
2. Situs-situs berbahaya (Ongewenste sites)
3. Kontak anonim (Anoniem/resico contacten)
4. Kurang sehat secara fisik (Fysiek passief)
5. Tidak aman (Onveilig)
6. Kesepian (Vereenzaming)
7. Games dan program yang meransang kekerasan (Geweldadige games en programma’s)
8. Ejeken dan menimbulkan hutang (Schelden en schulden)
9. Perusahaan palsu/penipuan (Malafide bedrijven)
10. Menghina lewat internet (Pesten via internet)
Kemudian, pihak sekolah—melalui sebuah riset tersendiri (sejenis action research)—mengungkapkan statistik berikut.
1. 98% dari siswa di sekolah tersebut sudah mulai menggunakan internet sejak Groep 3 (Kelas 1 SD)
2. 50% murid melakukan penghinaan (pesten/bullying) via internet
3. 17 dari 22 murid mengalami penghinaan melalui internet
4. 6% siswi (meisjes) (Groep 8/Kelas 6) mengalami kecanduan internet
5. 4% siswa (jongens) (Groep 8/Kelas 6) mengalami kecanduan bermain games online
Menunjang angka-angka di atas, ada orang tua yang kebetulan duduk di kelompok kami diminta oleh moderator sedikit menceritakan pengalamannya ketika salah seorang putrinya hampir saja menjadi korban pria pedofil (kinderlokker) melalui MSN di internet. Aksi tersebut berhasil digagalkan karena orang tua tadi sigap dan cukup tanggap dengan aktivitas putrinya.
Pada putaran berikutnya, pihak sekolah juga mengungkapakn hasil riset mereka tentang pandangan dan sikap murid terhadap manfaat dan mudharat internet.
Manfaat (voordelen) internet, menurut mereka:
1. Mencari informasi untuk mengerjakan tugas-tugas (Informatie opzoeken, werkstuk, huiswerk)
2. Berkomunikasi menggunakan MSN (Praten via MSN; ada seorang siswi yang mengaku pernah chatting menggunakan sarana tersebut selama 24 jam!)
3. Games (Spelletjes)
4. Memesan/membeli online, tanpa peranko (Online bestellen/kopen, geen postzegels)
5. Hiburan (Niet vervelen, muziek)
6. Saling tukar film (Filmpjes bekijken, webcams elkaar zien)
Mudharat (nadelen):
1. Ejekan/makian secara anonim (Je wordt anoniem uitgescholden)
2. Sering bertengkar (Veel ruzies)
3. Website berbahaya (Vieze websites)
4. Dipaksa menjadi PSK (Loverboys)
5. Kecanduan (Verslaafd raken)
6. Tidak banyak bergerak (Geen beweging)
7. Membaca buku berkurang (Minder boeken lezen)
8. Terlambat tidur (Te laat naar bed)
9. Merusak mata (Slecht voor je ogen)
10. Merasa terkucil jika tidak punya sarana komputer dan internet (Als je geen computer hebt)
Sekolah juga menemukan istilah-istilah “prokem” yang biasa digunakan siswa berkomunikasi dengan media-media online di atas. Antara lain:
1. hoest = hoe is het? (Apak kabar?)
2. bm@8 = bij mij om acht uur (di tempat saya jam delapan nanti)
3. mnmdr = mijn moeder kijk mee (ibu saya lagi mengawasi saya)
4. bjmjez = bemoeie je met je eigen zaak (jangan ikut campur)
5. E-me = email mij (kirim saya email)
6. afn = afkijken (nyontek)
7. 7uvbjt = 7 uur vanavond bij jou thuis (jam 7 nanti malam saya ke rumahmu)
8. wiv = weet ik veel (saya nggak tahu)
9. w8ffbrb = watch effen I’ll be right back (sebentar saya segera kembali)
Menjelang pulang, masing-masing peserta mendapat 1 kopi (draf) protokol penggunaan internet bagi orang tua di rumah sehingga bisa membantu anak masing-masing untuk mengurangi resiko negatif penggunaan internet bagi anak, orang tua diminta memberikan masukan terhadap draf tersebut sehingga bisa dijadikan dokumen resmi 2 minggu kemudian; 1 kopi draf protokol serupa untuk pihak sekolah, dan jepitan berupa kepik (lieveheersbeestje/ladybirds) sebagai lambang anti kekerasan (tegen zinloos geweld) dan keberuntungan; dan 1 majalah komik Suske en Wiske (komik terkenal terbitan Belgia) dengan tema tentang internet.
Pembelajaran dan Tanggung Jawab Bersama
Kemajuan teknologi dunia-maya sebagai bagian dari globalisasi sudah merasuk sedemikain jauh ke dalam relung-relung kehidupan masyarakat. Orang tua dan pihak sekolah yang menyiapkan peserta didik yang karena kemajuan teknologi tadi telah tumbuh menjadi “aperstaartjegeneratie” (“generasi @”) harus menghadapi realitas tersebut dengan bijak dan bahu-membahu. Matranya: Mengoptimalkan aspek positif dan berusaha meminimalisir dampak negatif teknologi internet terhadap anak dan orang tua.
Dalam konteks di atas, orang tua dan sekolah harus senantiasa melakukan pembelajaran (learning) terhadap isu-isu yang berkaitan dengan kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi sehingga akan mampu memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap anak masing-masing dan peserta didik di sekolah. Yang jauh lebih penting adalah perlunya penyadaran khususnya di kalangan pendidik, orang tua dan sekolah bahwa problematika tersebut merupakan tanggung jawab bersama sehingga harus diselesaikan secara bersama pula. Kami senang dan sangat mendukung acara semacam itu. Dan kami cukup lega karena di sekolah yang confessioneel tersebut penanaman nilai-nilai dan norma-norma kebaikan (normen en waarden) masih menempati prioritas utama.
tulisan Anda banyak sekali manfaatnya untuk dunia pendidikan
Comment by tati — November 12, 2007 @ 2:02 pm
Waaah, tulis laporan pandangan mata ga bilang2
di posting di blog umminya ya…
Comment by Dessy — November 24, 2007 @ 12:30 pm