Menghitung Burung di Belanda (2)
World Forum Convention Centre, Den Haag, 30 Januari 2008
Gunaryadi
“When you have shot one bird flying you have shot all birds flying. They are all different and they fly in different ways but the sensation is the same and the last one is as good as the first.” Ernest Hemingway (Novelis, penulis, wartawan, 1899-1961)
Kesejahteraan burung dan standar kehidupanAktivitas penghitungan burung sebagaimana yang disinggung pada bagian tulisan sebelumnya hanyalah salah satu bentuk kegiatan perlindungan dan pelestarian burung yang dilakukan oleh “Vogelbescherming Nederland”. Selain itu, kegiatan LSM ini juga memiliki dimensi internasional karena pada umumnya burung hidup tidak mengenal batas-batas geografis atau negara.
Kepedulian terhadap kesejahteraan burung dapat dikatakan memiliki korelasi positif yang cukup signifikan dengan kondisi dan standar kehidupan. Ketika pencapaian taraf keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran semakin tinggi, maka konsentrasi kebutuhan dan prioritas akan bergeser kepada level dan area kebutuhan sekunder dan tersier. Fakta historis memperlihatkan bahwa roda kemajuan kultural dan ketinggian peradaban baik berupa seni, arsitektur, sistem sosial dan ketatanegaraan, dsb. pada setiap bangsa secara simultan akan bergerak maju ketika kebutuhan primer masyarakat sudah terpenuhi.
Di Belanda, standar kehidupan sudah cukup tinggi. Meski barangkali masih ada segelintir orang yang lapar, namun secara umum kebutuhan primer sudah terpenuhi. Oleh karena itu, sangat mudah memahamkan kepada masyarakat agar tidak menangkap, menembak, membunuh burung-burung liar yang hidup bebas di pepohonan, selokan, kanal-kanal sungai-sungai, di halaman dan balkon. Barangsiapa yang melanggar aturan tersebut akan di-boete yang uang dendanya akan dijamin masuk ke kas negara dan didistribusikan kembali untuk kepetingan publik atau burung. Disamping itu, sebagai sanksi sosial, sang pelaku juga akan mendapat julukan masyarakat sekitar sebagai orang “asosial.” Namun, jumlah orang yang “iseng” semacam itu tidak banyak di Belanda.
Selanjutnya, dukungan ekologis bagi burung di Belanda cukup seimbang. Tidak ada area tanpa kawasan hijau penyangga (pepohonan). Memberi makan atau menaruh kandang buatan untuk burung liar di taman atau di halaman juga ada aturannya.
Sulit dibayangkan, jika sebagian besar masyarakat di Belanda hidup dalam kelaparan dan kurang terdidik dalam menghargai lingkungan saat ini, maka populasi burung-burung liar akan masih eksis seperti sekarang.
Burung di Belanda = burung di Indonesia
Secara ideal, penghargaan terhadap burung di Belanda mestinya sama dengan perhatian kita terhadap nasib burung di Indonesia. Namun terdapat perbedaan titik bertolak antara keduanya. Di Tanah Air, kita masih berjuang agar kebutuhan primer—pangan, sandang, kesehatan, dan pendidikan—sebagian anggota besar masyarakat terpenuhi. Di Belanda, prioritas tersebut sudah beranjak menuju pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier. Dengan kata lain, masa depan burung di Tanah Air akan tergantung pada seberapa jauh kesejahteraan masyarakat tercapai.
Sedikit merujuk pada populasi dan jenis burung yang diuraikan pada bagian sebelumnya, sesungguhnya Indonesia jauh lebih kaya, berwarna-warni, beragam. Populasi dan jenis burung di Belanda tidak sebesar dan bervariasi itu. Ini merupakan modal anugerah yang sangat berharga.
Mudah-mudahan burung-burung di Tanah Air sekedar menyingkir ke habitat baru untuk sementara, yang kemudian akan kembali ke habitat yang lama—sebagaimana yang terekam dalam memori masa kecil penulis—ketika dukungan ekologis kembali menemukan ekuilibrium dan masyarakatnya semakin makmur dan lebih menghargai kehidupan makhluk hidup di sekitarnya. Tampaknya, harapan populasi dan komunitas burung yang terbang, hidup, dan berkicau bebas bahkan di sekitar perkotaan (centrum) seperti Den Haag, bukan sebuah utopia. Ernest Hemingway mengingatkan bahwa kita juga harus menghargai burung-burung yang hidup di sekitar dan lingkungan kita. Tidak salah kiranya, tingkat pemahaman ini merupakan salah satu indikasi seberapa luhur tingkat keberadaban kita sebagai manusia.
greeds n evils owned by bloody humans, in all levels all positions all regions inhabiting our beloved country Indonesia, have swept away all blessings.
Comment by dust in the wind — February 23, 2008 @ 2:25 pm
Tes..tes.. new look! Keep on writting ya…
Comment by Dessy — May 7, 2008 @ 1:29 pm