Serba-serbi Babak Penyisihan Putaran Final Piala Eropa 2008
Seorang sahabat penulis, mahasiswa PhD di TU Delft asal Malaysia berkisah. Dia punya teman di tempat kerjanya, asal Prancis. Sebut saja namanya Oliver. Si Oliver ingin ingin memberikan dukungan dalam bentuk lain kepada tim sepakbola nasionalnya: Les Bleus. Dia meminta isterinya, Laureen, membelikan bendera Prancis. Di kota kecil seperti Delft sulit mendapat bendera Prancis di toko-toko. Tetapi Laureen tidak kehilangan akal. Di membeli bendera Belanda, kemudian mengguntingnya secara vertikal menjadi tiga bagian. Hasil guntingnya diputar ke kanan dengan sudut 90 derajat sehingga menjadi bendera triwarna Prancis yang berasal dari bendera Belanda: merah, putih, dan biru. Malang bagi Oliver dan Laureen ternyata malam itu, 13 Juni 2008, Les Blues digasak Oranje (kesebelasan nasional Belanda) dengan skor telak, 4 – 1.
- II -
Bertepatan ketika Belanda main melawan Prancis, 13 Juni 2008, penulis sedang mengikuti sebuah acara diskusi yang cukup serius dengan beberapa orang kawan. Kami tidak memutar TV agar acaranya tidak terganggu. Meskipun berusaha konsentrasi penuh, namun kami kadang terganggu juga. Yang mengganggu itu adalah suara terompet. Sepanjang diskusi kami mendengar 4 kali bunyi terompet yang cukup keras. Kesimpulan penulis waktu itu adalah bahwa Belanda telah membuat 4 gol ke gawang Prancis. Tetapi kami tidak tahu pasti skornya. Maklum, ketika Prancis membuat gol, sudah pasti terompet tidak berbunyi. Boleh jadi Prancis bisa menang jika berhasil menyarangkan lebih dari 4 gol ke gawang Edwin van der Sar. Sehabis sholat Maghrib kami baru tahu bahwa Belanda memenangkan duel melawan Prancis tersebut dengan skor 4 -1. Efeknya malam itu adalah kemacetan, hiruk-pikuk, kafe dan bar pada tutup lebih cepat mengantisipasi antusias fans Oranje yang berpesta-pora. Beberapa ruas jalan ke pusat kota Den Haag dan kawasan Laakkwartier dekat Stasiun Hollands-Spoor, misalnya, terpaksa ditutup dan dialihkan. Penulis yang kebetulan tinggal di pinggiran centrum harus mutar-mutar dulu ke rute lain menuju ke rumah karena ruas jalanan yang ditutup oleh polisi. Hidup Oranje!
- III -
Ahad, 15 Juni 2008 sore, penulis beserta beberapa sahabat ditraktir seorang kawan dari Brussel, menikmati hidangan khas di sebuah restoran di kawasan yang dihuni mayoritas warga etnis Turki di Den Haag. Senja itu, kesebelasan nasional Turki (Ay-Yıldızlılar, atau Bulan Bintang) merumput menghadapi tim Republik Ceko. Usai dari sana sekitar pukul 21.30 kami ke stasiun sebelum pulang ke rumah. Ketika lewat, para pendukung kesebelasan Turki tumpah di pinggir jalan. Ramai dengan manusia yang bergerombol. Namun senyap dan raut wajah mereka murung. Tidak seperti ekspresi orang-orang Turki yang biasanya ceria, percaya diri, dan antusias. Kesimpulan awal penulis adalah kesebelasan Turki “pasti kalah”. Di rumah, sejenak putar TV. Ternyata benar: skor sementara 0 – 1 untuk Turki. Tidak lama kemudian, Republik Ceko unggul 2 - 0. Pada menit-menit terakhir, bangsa petualang tersebut dengan penuh semangat mengubah sebuah kemustahilan menjadi kenyataan. Mereka menang 3-2, menyisihkan salah satu favorit juara. Itulah sepakbola. Para pendukung kesebelasan Turki merayakan kegembiraan mereka di jalan-jalan, lapangan, di kenderaan-kenderaan. Tidak peduli itu di Amsterdam, Utrecht, Rotterdam, Den Haag, dan kota-kota lain di Belanda, mereka mengibarkan bendera Turki, meneriakkan yel-yel, membunyikan klakson mobil dan bernyanyi gembira. Maklum, dengan kemenangan tersebut Ay-Yıldızlılar melaju ke putaran perempat final. Penulis sempat termenung. Andaikan kami masih berada di restoran ketika pertandingan usai, besar sekali kemungkinan kami akan mendapat menu ekstra dan gratis dari restoran tadi. Pengalaman selama ini, saudagar/pengusaha Turki memberikan bonus/tambahan gratis kepada para langganan setia mereka pada perayaan dan suasana tertentu.
baa kaba sanak Gun?
salam
zt
Comment by zt — December 20, 2008 @ 7:05 am