<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title></title>
	<link>http://gunaryadi.blogsome.com</link>
	<description>Dutch-Indonesian Interplays in Particular....</description>
	<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 16:49:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Serba-serbi Babak Penyisihan Putaran Final Piala Eropa 2008</title>
		<link>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/06/17/serba-serbi-babak-penyisihan-putaran-final-piala-eropa-2008/</link>
		<comments>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/06/17/serba-serbi-babak-penyisihan-putaran-final-piala-eropa-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 16:47:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Perspectives</category>
		<guid>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/06/17/serba-serbi-babak-penyisihan-putaran-final-piala-eropa-2008/</guid>
		<description><![CDATA[	- I - 
	Seorang sahabat penulis, mahasiswa PhD di TU Delft asal Malaysia berkisah. Dia punya teman di tempat kerjanya, asal Prancis. Sebut saja namanya Oliver.  Si Oliver ingin ingin memberikan dukungan dalam bentuk lain kepada tim sepakbola nasionalnya: Les Bleus. Dia meminta isterinya, Laureen, membelikan bendera Prancis. Di kota kecil seperti Delft sulit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="center">- I - </div>
	<p class="MsoNormal">Seorang sahabat penulis, mahasiswa PhD di TU Delft asal Malaysia berkisah. Dia punya teman di tempat kerjanya, asal Prancis. Sebut saja namanya Oliver. <a id="more-109"></a> Si Oliver ingin ingin memberikan dukungan dalam bentuk lain kepada tim sepakbola nasionalnya: Les Bleus. Dia meminta isterinya, Laureen, membelikan bendera Prancis. Di kota kecil seperti Delft sulit mendapat bendera Prancis di toko-toko. Tetapi Laureen tidak kehilangan akal. Di membeli bendera Belanda, kemudian mengguntingnya secara vertikal menjadi tiga bagian. Hasil guntingnya diputar ke kanan dengan sudut 90 derajat sehingga menjadi bendera triwarna Prancis yang berasal dari bendera Belanda: merah, putih, dan biru. Malang bagi Oliver dan Laureen ternyata malam itu, 13 Juni 2008, Les Blues digasak Oranje (kesebelasan nasional Belanda) dengan skor telak, 4 &ndash; 1. </p>
	<p align="center" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p align="center" class="MsoNormal">- II - </p>
	<p class="MsoNormal">Bertepatan ketika Belanda main melawan Prancis, 13 Juni 2008, penulis sedang mengikuti sebuah acara diskusi yang cukup serius dengan beberapa orang kawan. Kami tidak memutar TV agar acaranya tidak terganggu. Meskipun berusaha konsentrasi penuh, namun kami kadang terganggu juga. Yang mengganggu itu adalah suara terompet. Sepanjang diskusi kami mendengar 4 kali bunyi terompet yang cukup keras. Kesimpulan penulis waktu itu adalah bahwa Belanda telah membuat 4 gol ke gawang Prancis. Tetapi kami tidak tahu pasti skornya. Maklum, ketika Prancis membuat gol, sudah pasti terompet tidak berbunyi. Boleh jadi Prancis bisa menang jika berhasil menyarangkan lebih dari 4 gol ke gawang Edwin van der Sar. Sehabis sholat Maghrib kami baru tahu bahwa Belanda memenangkan duel melawan Prancis tersebut dengan skor 4 -1. Efeknya malam itu adalah kemacetan, hiruk-pikuk, kafe dan bar pada tutup lebih cepat mengantisipasi antusias fans Oranje yang berpesta-pora. Beberapa ruas jalan ke pusat kota Den Haag dan kawasan Laakkwartier dekat Stasiun Hollands-Spoor, misalnya, terpaksa ditutup dan dialihkan. Penulis yang kebetulan tinggal di pinggiran centrum harus mutar-mutar dulu ke rute lain menuju ke rumah karena ruas jalanan yang ditutup oleh polisi. Hidup Oranje!</p>
	<p align="center" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p align="center" class="MsoNormal">- III - </p>
	<p class="MsoNormal">Ahad, 15 Juni 2008 sore, penulis beserta beberapa sahabat ditraktir seorang kawan dari Brussel, menikmati hidangan khas di sebuah restoran di kawasan yang dihuni mayoritas warga etnis Turki di Den Haag. Senja itu, kesebelasan nasional Turki (Ay-Yıldızlılar, atau Bulan Bintang) merumput menghadapi tim Republik Ceko. Usai dari sana sekitar pukul 21.30 kami ke stasiun sebelum pulang ke rumah. Ketika lewat, para pendukung kesebelasan Turki tumpah di pinggir jalan. Ramai dengan manusia yang bergerombol. Namun senyap dan raut wajah mereka murung. Tidak seperti ekspresi orang-orang Turki yang biasanya ceria, percaya diri, dan antusias. Kesimpulan awal penulis adalah kesebelasan Turki &ldquo;pasti kalah&rdquo;. Di rumah, sejenak putar TV. Ternyata benar: skor sementara 0 &ndash; 1 untuk Turki. Tidak lama kemudian, Republik Ceko unggul 2 - 0. Pada menit-menit terakhir, bangsa petualang tersebut dengan penuh semangat mengubah sebuah kemustahilan menjadi kenyataan. Mereka menang 3-2, menyisihkan salah satu favorit juara. Itulah sepakbola. Para pendukung kesebelasan Turki merayakan kegembiraan mereka di jalan-jalan, lapangan, di kenderaan-kenderaan. Tidak peduli itu di Amsterdam, Utrecht, Rotterdam, Den Haag, dan kota-kota lain di Belanda, mereka mengibarkan bendera Turki, meneriakkan yel-yel, membunyikan klakson mobil dan bernyanyi gembira. Maklum, dengan kemenangan tersebut Ay-Yıldızlılar melaju ke putaran perempat final. Penulis sempat termenung. Andaikan kami masih berada di restoran ketika pertandingan usai, besar sekali kemungkinan kami akan mendapat menu ekstra dan gratis dari restoran tadi. Pengalaman selama ini, saudagar/pengusaha Turki memberikan bonus/tambahan gratis kepada para langganan setia mereka pada perayaan dan suasana tertentu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/06/17/serba-serbi-babak-penyisihan-putaran-final-piala-eropa-2008/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Tafeltennissen en vriendschap</title>
		<link>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/05/28/tafeltennissen-en-vriendschap/</link>
		<comments>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/05/28/tafeltennissen-en-vriendschap/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 16:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Reflections</category>
		<guid>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/05/28/tafeltennissen-en-vriendschap/</guid>
		<description><![CDATA[	Gunaryadi
	Bron: De Wassenaarse Krant, JAARGANG 4 - EDITIE 161 - WEEK 22 - 27 MEI 2008, pagina. 17 
	Sekolah Indonesia Nederland (Indonesische school in Nederland, afgekort SIN) heeft zich sinds 1965 in Wassenaar gevestigd. Maar niet veel Wassenaarders hebben ooit van deze school gehoord. Deze school hoort bij de Indonesische Ambassade te Den Haag en [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Gunaryadi</strong></p>
	<p>Bron: <strong><em>De Wassenaarse Krant</em></strong>, JAARGANG 4 - EDITIE 161 - WEEK 22 - 27 MEI 2008, pagina. 17 </p>
	<p>Sekolah Indonesia Nederland (Indonesische school in Nederland, afgekort SIN) heeft zich sinds 1965 in Wassenaar gevestigd.<a id="more-108"></a> Maar niet veel Wassenaarders hebben ooit van deze school gehoord. Deze school hoort bij de Indonesische Ambassade te Den Haag en geeft onderwijs aan kinderen van de Indonesische diplomaten en ge&iuml;nteresseerde Indonesi&euml;rs die in Nederland wonen.</p>
	<p>Door de onbekendheid strijdt SIN voor vriendschap en wil het ge&iuml;ntegreerd zijn met onze buren in Wassenaar. Via meneer Danny Lim, een Nederlander van Indonesische afkomst en zich al lang in Wassenaar heeft gewoond, maken wij langzamerhand nieuwe contacten en vrienden. Zo gaven onze leerlingen een voorstelling met de Javanse gamelan instrument en muziek als een culturele en vriendschapelijke bijdrage tijdens de Koninginnedag in Wassenaar die door de Burgemeester J.Th. Hoekema en onze Ambassadeur H.E. Junus E. Habibie was geopend. Door dit optreden krijgen wij ook een uitnodiging voor een andere voorstelling bij een golfclub in Wassenaar in juni 2008.</p>
	<p> Woensdagavond, 21 mei 2008, kreeg SIN een leuke gelegenheid om gezamenlijke sporten met de Wassenaarse SNEL EN LENIG (SEL) tafeltennis sportvereniging die in sportzaal Schulpwei in Wassenaar plaats vond. &quot;Ondanks dat niemand van ons team heeft gewonnen, waren wij toch nog erg blij,&quot; zei SIN&#8217;s directeur, meneer Saidan. &quot;Wij maakten een vriendelijke sfeer mee en het belangrijkste was dat we bij elkaar kunnen komen, om nieuwe kennis te maken en voor de gezelligheid,&quot; aldus Saidan. (Door: Gunaryadi, SIN&#8217;s conrector.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/05/28/tafeltennissen-en-vriendschap/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menghitung Burung di Belanda (2)</title>
		<link>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/30/menghitung-burung-di-belanda-2/</link>
		<comments>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/30/menghitung-burung-di-belanda-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 11:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Reflections</category>
		<guid>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/30/menghitung-burung-di-belanda-2/</guid>
		<description><![CDATA[	World Forum Convention Centre, Den Haag, 30 Januari 2008
Gunaryadi
	&ldquo;When you have shot one bird flying you have shot all birds flying. They are all different and they fly in different ways but the sensation is the same and the last one is as good as the first.&rdquo; Ernest Hemingway (Novelis, penulis, wartawan, 1899-1961)
 Kesejahteraan burung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>World Forum Convention Centre, Den Haag, 30 Januari 2008<br />
<p class="MsoNormal"><strong>Gunaryadi</strong></p>
	<p class="MsoNormal">&ldquo;<em>When you have shot one bird flying you have shot all birds flying. They are all different and they fly in different ways but the sensation is the same and the last one is as good as the first</em>.&rdquo; Ernest Hemingway (Novelis, penulis, wartawan, 1899-1961)</p>
<a id="more-107"></a> <strong>Kesejahteraan burung dan standar kehidupan</strong><br />
<p class="MsoNormal">Aktivitas penghitungan burung sebagaimana yang disinggung pada bagian tulisan sebelumnya hanyalah salah satu bentuk kegiatan perlindungan dan pelestarian burung yang dilakukan oleh &ldquo;Vogelbescherming Nederland&rdquo;. Selain itu, kegiatan LSM ini juga memiliki dimensi internasional karena pada umumnya burung hidup tidak mengenal batas-batas geografis atau negara. </p>
	<p class="MsoNormal">Kepedulian terhadap kesejahteraan burung dapat dikatakan memiliki korelasi positif yang cukup signifikan dengan kondisi dan standar kehidupan. Ketika pencapaian taraf keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran semakin tinggi, maka konsentrasi kebutuhan dan prioritas akan bergeser kepada level dan area kebutuhan sekunder dan tersier. Fakta historis memperlihatkan bahwa roda kemajuan kultural dan ketinggian peradaban baik berupa seni, arsitektur, sistem sosial dan ketatanegaraan, dsb. pada setiap bangsa secara simultan akan bergerak maju ketika kebutuhan primer masyarakat sudah terpenuhi. </p>
	<p class="MsoNormal">Di Belanda, standar kehidupan sudah cukup tinggi. Meski barangkali masih ada segelintir orang yang lapar, namun secara umum kebutuhan primer sudah terpenuhi. Oleh karena itu, sangat mudah memahamkan kepada masyarakat agar tidak menangkap, menembak, membunuh burung-burung liar yang hidup bebas di pepohonan, selokan, kanal-kanal sungai-sungai, di halaman dan balkon. Barangsiapa yang melanggar aturan tersebut akan di-<em>boete</em> yang uang dendanya akan dijamin masuk ke kas negara dan didistribusikan kembali untuk kepetingan publik atau burung. Disamping itu, sebagai sanksi sosial, sang pelaku juga akan mendapat julukan masyarakat sekitar sebagai orang &ldquo;asosial.&rdquo; Namun, jumlah orang yang &ldquo;iseng&rdquo; semacam itu tidak banyak di Belanda.</p>
	<p class="MsoNormal">Selanjutnya, dukungan ekologis bagi burung di Belanda cukup seimbang. Tidak ada area tanpa kawasan hijau penyangga (pepohonan). Memberi makan atau menaruh kandang buatan untuk burung liar di taman atau di halaman juga ada aturannya. </p>
	<p class="MsoNormal">Sulit dibayangkan, jika sebagian besar masyarakat di Belanda hidup dalam kelaparan dan kurang terdidik dalam menghargai lingkungan saat ini, maka populasi burung-burung liar akan masih eksis seperti sekarang. </p>
	<p class="MsoNormal"><strong>Burung di Belanda = burung di Indonesia</strong></p>
	<p class="MsoNormal">Secara ideal, penghargaan terhadap burung di Belanda mestinya sama dengan perhatian kita terhadap nasib burung di Indonesia. Namun terdapat perbedaan titik bertolak antara keduanya. Di Tanah Air, kita masih berjuang agar kebutuhan primer&mdash;pangan, sandang, kesehatan, dan pendidikan&mdash;sebagian anggota besar masyarakat terpenuhi. Di Belanda, prioritas tersebut sudah beranjak menuju pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier. Dengan kata lain, masa depan burung di Tanah Air akan tergantung pada seberapa jauh kesejahteraan masyarakat tercapai.</p>
	<p class="MsoNormal">Sedikit merujuk pada populasi dan jenis burung yang diuraikan pada bagian sebelumnya, sesungguhnya Indonesia jauh lebih kaya, berwarna-warni, beragam. Populasi dan jenis burung di Belanda tidak sebesar dan bervariasi itu. Ini merupakan modal anugerah yang sangat berharga.</p>
	<p class="MsoNormal">Mudah-mudahan burung-burung di Tanah Air sekedar menyingkir ke habitat baru untuk sementara, yang kemudian akan kembali ke habitat yang lama&mdash;sebagaimana yang terekam dalam memori masa kecil penulis&mdash;ketika dukungan ekologis kembali menemukan ekuilibrium dan masyarakatnya semakin makmur dan lebih menghargai kehidupan makhluk hidup di sekitarnya. Tampaknya, harapan populasi dan komunitas burung yang terbang, hidup, dan berkicau bebas bahkan di sekitar perkotaan (<em>centrum</em>) seperti Den Haag, bukan sebuah utopia. Ernest Hemingway mengingatkan bahwa kita juga harus menghargai burung-burung yang hidup di sekitar dan lingkungan kita. Tidak salah kiranya, tingkat pemahaman ini merupakan salah satu indikasi seberapa luhur tingkat keberadaban kita sebagai manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/30/menghitung-burung-di-belanda-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menghitung Burung di Belanda (1)</title>
		<link>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/30/menghitung-burung-di-belanda-1/</link>
		<comments>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/30/menghitung-burung-di-belanda-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 09:15:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Reflections</category>
		<guid>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/30/menghitung-burung-di-belanda-1/</guid>
		<description><![CDATA[	World Forum Convention Centre, Den Haag, 29 Januari 2008
	Gunaryadi  
	&ldquo;The screech and mechanical uproar of the big city turns the citified head, fills citified ears&mdash;as the song of birds, wind in the trees, animal cries, or as the voices and songs of his loved ones once filled his heart. He is sidewalk-happy.&rdquo; Frank Lloyd [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>World Forum Convention Centre, Den Haag, 29 Januari 2008</p>
	<p><strong>Gunaryadi</strong>  </p>
	<p class="MsoNormal">&ldquo;<em>The screech and mechanical uproar of the big city turns the citified head, fills citified ears&mdash;as the song of birds, wind in the trees, animal cries, or as the voices and songs of his loved ones once filled his heart. He is sidewalk-happy</em>.&rdquo; Frank Lloyd Wright (Arsitek, 1867-1959)</p>
<a id="more-106"></a><br />
<p class="MsoNormal"><strong>Burung dalam bingkai kenangan masa kecil</strong></p>
	<p class="MsoNormal">Kesempatan tinggal di Belanda merupakan karunia dan nikmat yang sangat penulis syukuri karena banyak alasan. Diantara alasan tadi bersifat emosional dan subyektif di mana nuansa yang mengingatkan penulis dengan nostalgia masa kecil ketika di kampung&mdash;sebuah kota kecil di pantai barat Sumatera&mdash;sangat kental. Salah satu faktor yang membingkai kenangan masa kecil tersebut adalah besarnya populasi dan beragamnya jenis burung yang hidup bebas di sekitar rumah, kebun, dan lingkungan sekitar. </p>
	<p class="MsoNormal">Masih segar dalam ingatan jenis-jenis burung liar tersebut yang sebagian besar hanya mampu penulis identifikasi dengan nama dalam bahasa ibu penulis. Ada burung murai, balam, titiran (tekukur), cicilah (kolibri) dengan beragam jenisnya, merbah, bondo (gelatik), pipit, sia (tempua), bangau berbagai jenis, uwak-wak (burung rawa) dengan berbagai rupa, ayam barugo (ayam hutan), pelatuk, beo, kuaw (merak), enggang, punai, berkuk, srindit (parkit), pelatuk, birik-birik, burung layang-layang, burung hantu (ketika malam), elang laut, elang bumbun, alap-alap, dan elang kluwit (kalong), serta beberapa jenis lagi.</p>
	<p class="MsoNormal">Penulis menjadi saksi, bahwa seiring dengan &ldquo;kotanisasi&rdquo;&mdash;serta segala elemen sosio-ekonomi dan teknologi yang melekat padanya&mdash;komunitas beragam jenis burung yang dua dekade sebelumnya masih ramai nyaris tidak tampak lagi, bahkan kicauan yang mengawali terbitnya fajar sudah jarang atau hanya sayup-sayup terdengar. Barangkali renungan Frank Lloyd Wright di atas cukup representatif merefleksikan perubahan tersebut.</p>
	<p class="MsoNormal">Tampaknya sebagian besar jenis burung di kampung sudah terbang &ldquo;merantau.&rdquo; Apakah &ldquo;merantau&rdquo; ke alam baka karena menjadi menu dalam rantai makanan atau menghindar dari gangguan &ldquo;predator&rdquo; tingkat tinggi yaitu manusia atau bahkan punah sama sekali. Penulis tidak memiliki data dan statisitk akurat terhadap kemungkinan tersebut. Namun, probabilitas yang paling mungkin ialah unggas tadi berpindah habitat. Analogis dengan pola migrasi pada manusia, berpindahnya bangsa burung sebagai akibat dari ketidaksimbangan ekologis, berkurangnya daya dukung lingkungan hidup karena kerusakan ekosistem dan habitat, serta gangguan fisik dan ketidaknyamanan psikologis akibat interferensi manusia.</p>
	<p class="MsoNormal"><strong>Berapa jumlah <em>tuinvogels</em> di Belanda?</strong></p>
	<p class="MsoNormal">Tanggal 26-27 Januari 2008 Belanda mengadakan penghitungan burung secara nasional (<em>de Volkskrant</em>, 26/1/2008) yang diadakan oleh &ldquo;Vogelbescherming Nederland&rdquo; (sebuah LSM penyayang burung di Belanda). Kategori burung yang dihitung adalah jenis burung yang biasa hidup di kebun, taman dan sekitar rumah (<em>tuinvogels</em>). Yang menghitung adalah para sukarelawan dan pencinta burung di seluruh Belanda hingga tingkat RW (<em>wijk</em>). </p>
	<p class="MsoNormal">Penghitungan dilakukan sebagai berikut. Pertama, peserta (sukarelawan) menentukan salah satu hari dari <em>weekend</em> 26 atau 27 Januari tersebut sebagai hari penghitungan. Diperlukan minimal 1 jam pada hari tadi digunakan menghitung burung yang ada di halaman atau balkon masing-masing. Peserta dianjurkan mencari posisi yang nyaman dari jendela sewaktu menghitung sehingga bisa melihat keseluruhan halaman atau balkon. Siapkan pena dan selembar kertas (daftar jenis burung dan jumlah), petunjuk tentang jenis burung dan teropong (<em>verrekijker</em>). Kedua, hitung jumlah dan jenis burung dalam masa pengamatan tadi (hindari penghitungan dua kali). Ketiga, hasil penghitungan di-upload langsung oleh peserta ke website yang telah disediakan dan akan mendapat <em>feedback</em> langsung hasil penghitungan yang sudah masuk secara nasional. Dari website milik Vogelbescherming Nederland itu para peserta juga bisa men-download atau mencetak daftar jenis burung untuk mempermudah proses penghitungan serta foto-foto jenis burung yang lazim ditemukan di halaman atau balkon rumah.</p>
	<p class="MsoNormal">Panitia juga memberikan beberapa petunjuk praktis. Misalnya, peserta tidak perlu membedakan jenis kelamin burung yang diamati dan hitung; lakukan di waktu pagi karena saat tersebut burung biasanya burung sangat aktif; hindari penghitungan dua kali; burung yang hanya melintas di halaman atau balkon tidak perlu dihitung; sedikan kopi, teh, penganan ketika mengamati dan menghitung sehingga lebih nikmat. Kemudian, sebagai penambah semangat para peserta, panitia juga menyediakan undian berupa hadiah menarik seperti teropong pengamatan burung, buku panduan tentang <em>tuinvogels</em>, dll. Pada bagian akhir, setiap peserta akan menerima hasil penghitungan mereka secara nasional melalui email masing-masing.</p>
	<p class="MsoNormal">Tahun lalu, peserta yang ikut mencapai 10.000 orang. Waktu itu, jenis burung yang termasuk 3 besar adalah huismus (burung gereja), koolmees, dan merel. Tahun 2008 ini,&nbsp; penghitungan melibatkan lebih dari 15.000 orang peserta, dengan 3 besar jenis burung secara nasional sama dengan 2007 yaitu huismus, koolmees, dan merel.</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p class="MsoNormal">Hasil penghitungan memperlihatkan jenis burung &ldquo;Top 10&rdquo; secara nasional:</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Huismus (Passer Domesticus) = 96.898 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Koolmees (Parus Major) = 74.199 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Merel (Turdus merula) = 48.359 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Pimpelmees (Parus Caeruleus) = 46.807 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Spreeuw (Sturnus Vulgaris) = 41.557 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Vink (Fringilla Coelebs) = 41.172 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->7.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Kauw (Corvus Monedula) = 39.313 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->8.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Turkse tortel (Streptopelia Decaocto) = 29.216 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->9.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Houtduif (Columba Palumbus) = 23.857 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->10.&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Ringmus (Passer Montanus) = 18.308 ekor</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;<br /> Provinsi di mana paling banyak terhitung <em>tuinvogels </em>tahun 2008 ini adalah Zuid-Holland (di mana penulis bermukim), Gelderland, dan Brabant. Di <em>wijk</em> penulis sendiri terhitung sebagai berikut:</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Koolmees =&nbsp; 110 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Houtduif =&nbsp; 99 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Merel =&nbsp; 88 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Pimpelmees =&nbsp; 76 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Kauw = 54 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Vink =&nbsp; 53 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->7.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Ekster (pica pica) = 41 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->8.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Spreeuw =&nbsp; 33 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->9.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Halsbandparkiet (Psittacula Krameri) = 31 ekor</p>
	<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]-->10.&nbsp;&nbsp; <!--[endif]-->Stadsduif (Columba Livia Domestica) = 27 ekor</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;<br /> Data penghitungan di atas sepertinya sebagai proses sensus populasi burung, meskipun tidak mencerminkan jumlah burung yang hidup atau singgah (burung migrasi) di Belanda secara tepat. Di samping itu, yang dihitung hanya <em>tuinvogels</em>, sehingga jenis burung-burung liar yang lain seperti bebek (dengan berbagai jenis), angsa, bangau (reigers), kraanvogel, camar, dll. yang tidak termasuk dalam kategori <em>tuinvogels</em> tidak terhitung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/30/menghitung-burung-di-belanda-1/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Tahun Baru 1429: Masa Depan Islam di Eropa</title>
		<link>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/11/tahun-baru-1429-masa-depan-islam-di-eropa/</link>
		<comments>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/11/tahun-baru-1429-masa-depan-islam-di-eropa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 07:08:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Perspectives</category>
		<guid>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/11/tahun-baru-1429-masa-depan-islam-di-eropa/</guid>
		<description><![CDATA[	(Modifikasi artikel dari Kolom Teras Utama, Padang Ekspres, 9-1-2008)
	Gunaryadi
	 &ldquo;Charles Martel expelled the Arabs from France in 732, but they return in 1007&rdquo; (Mobil Peugeot 1007).

&nbsp; ***
	&nbsp; Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa terasa kita bertemu kembali dengan 1 Muharram. Jika 1 Muharram 1401 (11 November 1980) atau abad ke-15 Hijriyah yang menjadi simbol harapan renaisans [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p class="MsoNormal">(Modifikasi artikel dari Kolom Teras Utama, <em>Padang Ekspres</em>, 9-1-2008)</p>
	<p class="MsoNormal"><strong>Gunaryadi</strong><strong><br /></strong></p>
	<p class="MsoNormal"> &ldquo;<em>Charles Martel expelled the Arabs from France <strong>in</strong> 732, but they return <strong>in</strong> 1007</em>&rdquo; (Mobil Peugeot 1007).</p>
<a id="more-105"></a><br />
<p class="MsoNormal">&nbsp;<br /> ***</p>
	<p class="MsoBodyText">&nbsp;<br /> Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa terasa kita bertemu kembali dengan 1 Muharram. Jika 1 Muharram 1401 (11 November 1980) atau abad ke-15 Hijriyah yang menjadi simbol harapan renaisans Islam, maka perjalanan sang kala yang sudah memasuki seperempat abad kedua tampaknya tidak paralel dengan realitas yang menjadi indikator mutlak kebangkitan Ummah. Tetapi dalam kacamata yang relatif terhadap putaran waktu, gejala pencerahan itu mulai terasa, termasuk di kalangan minoritas Muslim terbesar di Barat yaitu di benua Eropa. Lelucon di atas barangkali bisa menjembatani realita masa lampau Islam di Eropa dengan masa kini.</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p class="MsoNormal"><strong>Eropa dan Minoritas Muslim</strong></p>
	<p class="MsoNormal">Islam bagi Eropa bukanlah entitas baru karena pernah menjadi bagian dari benua itu khususnya di Semenanjung Iberia yang kini menjadi Spanyol dan Portugal (710-1492) hingga warga Muslim terakhir diusir dari sana tahun 1612 karena dituduh berkomplot dengan Khilafah Turki Utsmani dan dianggap sebagai <em>Fifth Column</em> yang subversif. Berbeda dari kasus Andalusia, <em>enclaves</em> Muslim pribumi (<em>indigenous</em>) di Semenanjung Balkan, Eropa Timur dan Tengah, Rusia, serta beberapa negara di seputar Laut Mediterrania tidak mengalami rekonquista dan inkuisisi sehingga tetap eksis.</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p class="MsoNormal">Kembalinya Muslim secara besar-besaran ke Eropa (Barat) dimulai pasca Perang Dunia II. Kedatangan imigran Muslim tersebut bisa dilihat dari 2 arus utama. Pertama, sebagai tenaga kerja tamu tahun 1950-an. Ketika itu Eropa memberlakukan <em>guest worker scheme</em> yang banyak merekrut tenaga-kerja dari Afrika Utara dan Turki. Kebijakan ini terus berlanjut hingga tahun 1970-an. Setelah pensiun sebagian besar memutuskan menetap dan banyak pula yang mendatangkan keluarganya. Kedua, kedatangan sebagai akibat dari dekolonisasi. Ketika koloni Eropa di Asia dan Afrika merdeka tahun 1950-an, sebagian <em>onderdaan</em> mereka ikut pindah ke negeri bekas induk-semangnya. Prancis kedatangan Muslim dari negeri <em>Francophone</em>. Inggris menerima Muslim dari Anak Benua India. Selain modus di atas, jalur lain yang ditempuh imigran Muslim ke Eropa adalah karena ingin melanjutkan pendidikan, reunifikasi-keluarga, pengungsi (<em>asielzoekers</em>), bahkan pendatang-gelap. Tetapi modus-modus disebutkan terakhir ini tidak berperan signifikan. Kini sebagian besar Muslim di Eropa Barat merupakan generasi kedua dan ketiga dari para imigran tadi.</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p class="MsoNormal">Tidak ada satu taksiran yang akurat terhadap jumlah Muslim di Eropa. Kalaupun ada, itu bagaikan &ldquo;<em>a shoot in a dark</em>&rdquo; (F. Buijs dan J. Rath, 2002). Tetapi menurut perhitungan <em>Muslim Population Worldwide</em> (2006), Muslim di Benua Eropa berjumlah 50,9 juta dari 729,7 juta populasi (hampir 7%) yang tersebar di 42 negara (tidak termasuk Turki). Tetapi di EU-25, jumlah Muslim sekitar 14,9 juta.</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p class="MsoNormal"><strong>Beberapa Trend</strong></p>
	<p class="MsoNormal">Untuk memprediksi masa depan Muslim di Eropa kita perlu meninjau kecenderungan internal dan eksternalnya. Diantara trend internal tadi adalah: (1). Komunitas Muslim memiliki potensi demografis yang besar dengan indikasi laju pertambahan penduduk Muslim di Eropa cukup tinggi. Bahkan sejarawan terkemuka dari Princeton, Bernard Lewis menyatakan bahwa Eropa akan menjadi Islam&mdash;paling lambat&mdash;akhir abad ke-21. Prediksi lain menyebutkan, sebelum tahun 2050, paling tidak satu dari lima orang Eropa adalah Muslim (E. Osnos, 19/12/2004). Mantan redaktur salah satu rubrik <em>Trouw</em>, sebuah harian di Belanda, Ton Crijnen (1999) menyimpulkan bahwa 3-4 masyarakat asli Belanda dan Flanderen (Belgia belahan utara&mdash;penduduknya berbahasa Belanda) masuk Islam per minggu. Tahun 2001, angka natalitas di kalangan wanita Eropa Barat hanya 1,45. Sebuah penelitian memperkirakan jika angka tadi konstan dan imigrasi dibatasi, maka jumlah penduduk EU yang 377 juta itu akan tinggal separuhnya di akhir abad ini. Meskipun proyeksi-proyeksi tadi tidak otomatis menjadi <em>self-fulfilling prophecy</em> karena dinamika kependudukan tidak selalu berjalan linear, tetapi setidaknya menjadi ilustrasi terhadap potensi demografis tersebut. (2). Minoritas Muslim Eropa tidak monolitik. Mereka sangat beragam baik dari aspek etnisitas, fikih serta aliran. Disamping mayoritas imigran, terdapat pula penduduk asli yang Muslim. (3). Minimnya interaksi sosial dan aktivisme Muslim dalam menyelesaikan problematika sosial seperti kriminalitas, lingkungan, narkoba, institusi keluarga, dll. (4). Belum tuntasnya debat tentang integrasi. Mayoritas Muslim mendefinisikan integrasi sebagai kontribusi dan partisipasi aktif dengan tetap memelihara identitas masing-masing; sementara ada pihak yang mendefinisikan integrasi sebagai asimilasi. (5). Kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai setempat misalnya kebebasan individu, toleransi, dan sistem hukum yang mapan. (6). Munculnya gejala ekstrimitas di segelintir generasi muda Muslim yang bisa terjebak dalam tindak terorisme.</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p class="MsoNormal">Disamping itu, terdapat pula beberapa trend eksternal yang signifikan: (1). Tata dunia pasca Perang Dingin seolah menempatkan Islam sebagai pengganti hantu komunisme. Aksi terorisme yang disangkakan pada beberapa individu Muslim, membawa efek buruk terhadap Muslim secara keseluruhan. (2). Kecenderungan munculnya <em>cycle of fear</em> yang melahirkan legislasi yang instrusif untuk menangkal teror. (3). Kebijakan imigrasi dan reunifikasi-keluarga yang ketat untuk melindungi <em>Fortress of Europe</em> dari serbuan imigran yang notabene banyak yang Muslim. (4). Kebijakan diskriminatif terhadap imigran khususnya dalam akses mendapatkan pendidikan dan pekerjaan. Kerusuhan di Prancis akhir 2005 adalah klimaks dari ketimpangan tersebut. (5). Untuk mengatasi kekurangan buruh, EU cenderung merekrut pekerja dari negara yang memiliki latar kultural yang sama dengan Eropa. (6). Politisi populis dan media cenderung mengeksploitasi isu-isu negatif Islam demi suara elektorat dan tiras.</p>
	<p class="MsoFooter">&nbsp;</p>
	<h1>Memprediksi Masa Depan</h1>
	<p class="MsoNormal">Merujuk ulasan di atas maka masa depan Islam di Eropa bisa diprediksi dengan indikator berikut. (1). Sejauhmana komunitas Muslim mampu menemukan solusi problematika di atas. (2). Sejauhmana <em>resiliency</em> dan kohesivitas internal sehingga mampu bertahan terhadap semua tekanan sekaligus serta mencari alternatif terbaik, misalnya dari segi institusionalisasi, layanan, dsb. (3). Sejauhmana komunitas Muslim mampu menjembatani dan menjalin dialog dengan komponen masyarakat yang lain serta pemerintah setempat seperti adanya media-massa sendiri (tidak dalam rangka membentuk masyarakat yang eksklusif), <em>lobbyists</em> dan <em>pressure groups</em>. (4). Sejauhmana kemampuan tokoh Islam dan ulama mencegah kecenderungan ekstrim di kalangan anak muda; mengarahkan mereka agar bersikap moderat sesuai dengan karakteristik Islam yang <em>ummatan washatan</em>, serta beraktivitas dalam koridor <em>customs</em> dan <em>rule of laws</em> Eropa.</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p class="MsoNormal">Dalam konteks interaksi dan peran Muslim di Eropa tadi, penulis tidak sepakat dengan metafora <em>silent revolution</em> yang digagas Tarik Ramadan, tetapi lebih dalam kerangka melibatkan komunitas Muslim Eropa dalam sebuah rekayasa <em>peaceful enlightenment</em>, dalam konteks <em>positive engagement</em> dan <em>civilised contributio</em>n, sesuai dengan semangat ketika kita merayakan 1 Muharram, yang kali ini sudah berada pada angka 1429 H.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunaryadi.blogsome.com/2008/01/11/tahun-baru-1429-masa-depan-islam-di-eropa/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
